Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » SDGs Center Unpad Adakan Seminar Illegal Fishing and Sustainable Development

Sustainable Development Goals studies (SDGs) Center Unpad adalah suatu pusat untuk penelitian berbagai disiplin ilmu yang beraitan dengan SDGs di skala global, nasional, atau lokal. SDGs Center Unpad berusaha untuk memainkan peran strategis untuk membantu Indonesia mencapai SDGs di 2030. Adapun aktivitas-aktivitas yang dilakukan salah satunya adalah mengadakan seminar.
Jum’at, 31 Maret 2017, SDGs Center Unpad mengadakan seminar dengan fokus pada disiplin ilmu kelautan dan perikanan. Pembicara pada seminar ini adalah Kepala Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, M. Zulficar Mochtar, S.T., M.Sc. dan dipandu oleh Deputi Direktur SDGs Center Unpad, Dr. Suzy Anna yang juga merupakan Dosen Sosial Ekonomi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad. Seminar ini diadakan di Bale Sawala, Universitas Padjadjaran.

Tahukah anda Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia? Dimana didalamnya terdapat sumberdaya yang sangat menjanjikan. Ikan, itulah salah satu contoh hasil perikanan yang melimpah di Indonesia. Namun, tahukah anda negara-negara yang masuk top ten negara pengekspor produk perikanan? Sayang, Indonesia bukan diantaranya. Kenapa? Mungkin inilah awal pertanyaan yang illegal fishing menadi jawabannya.

Illegal fishing dan pembangunan berkelanjutan sangat erat kaitannya. Para pelaku illegal fishing menjadi salah satu faktor utama terhambatnya pembangunan berkelanjutan, khususnya pada bidang kelautan dan perikanan. Tidak sedikit kerugian negara yang diakibatkan oleh illegal fishing.
2/3 wilayah di bumi adalah laut, sama dengan 2/3 wilayah Indonesia adalah laut. Kita punya, Indonesia punya 18% terumbu karang dunia, Indonesia punya 25% mangrove dunia, akan tetapi jika diliat statusnya hanyna 5% terumbu karang kita yang excellent. Laju mangrove juga menurun drastis. Secara global 85% ikan di dunia sudah over eksploitasi, fooding exploited, dan overfishing. World Resource Institute menggambarkan dalam kajian yang series, tidak kurang dari 75% terumbu karang dalam keadaan terancam,” jelas Pak Zulficar.

Suatu permasalahan akan muncul jika ada penyebab. Begitupun dengan permasalahan illegal fishing yang terjadi di Indonesia. Masyarakat Indonesia justru jauh dan tidak tertarik dengan laut, padahal seperti yang telah dijelaskan oleh Pak Zulficar diatas, wilayah laut Indonesia lebih luas daripada wilayah daratannya. Masyarakat Indonesia terlena dengan doktrin bahwa Indonesia adalah Negara Agraris. Mungkin ini dapat dijadikan salah satu penyebab permasalahan illegal fishing, dimana mengakibatkan kurangnya rasa memiliki akan laut yang luas, sehingga penjagaan di laut pun minim, selanjutnya para pelaku illegal fishing datang, dan ironisnya tidak banyak Masyarakat Indonesia sadar akan besarnya kerugian yang terjadi.  

IUU fishing ini sudah terjadi sekitar 2-3 dekade di Indonesia dan tidak banyak yang tau. Menurut penelitian Indonesia rugi sekitar 200triliyun selama setahun,” terang Pak Zulficar terkait kerugian Indonesia.

Kerugian yang diakibatkan illegal fishing tidak semata karena sumber daya perikanan Indonesia diambil, namun mereka juga mengeksploitasi sumber daya tersebut tanpa menggunakan prinsip sustainable resources, seperti penggunaan alat tangkap yang tidak berwawasan lingkungan. Selain itu, mereka menggunakan izin yang tidak sah dan parahnya mereka menjadi pengonsumsi bahan bakar bersubsidi yang diperuntukkan bagi nelayan Indonesia. Disamping ini juga, ironisnya ada beberapa nelayan Indonesia yang memberikan izin kapalnya untuk kapal asing yang digantikan dengan beberapa jumlah uang.

Tidak kurang dari 7000 kapal mencuri di Indonesia, kalau angka resminya yang tercatat itu sekitar 1600 kapal asing, tapi di lapangan izin-izin kapal asing diduplikasi, kapalnya banyak izinnya satu. Setelah dilakukan analisa dan evaluasi terhadap kapal-kapal tersebut, itu 100% bermasalah, 100% melanggar,” jelas Pak Zulficar

Pelaku illegal fishing sangat jelas menjadi trouble maker atas keberlangsungan sustainable development. Adapun beberapa kebijakan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI adalah dengan adanya penenggelaman kapal dan pengurangan subsidi. Sabtu, 1 April 2017, terdapat 81 kapal illegal fishing yang ditenggelamkan serentak pada 12 lokasi di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu saja, KKP juga melakukan pengamanan dan Ocean Health Index (OHI) yang dapat menjadi langkah untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDG).

“Yang tetap dalam hidup adalah perubahan, sehingga jika kita tidak melakukan perubahan maka kita mengancam generasi mendatang,” kata Pak Zulficar diawal pemaparan materinya


Indonesia butuh perubahan. Laut Indonesia butuh masyarakat  yang peka terhadap kelestarian laut.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply