Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Sebanyak 106 Kapal Ikan Asing tanpa Dokumen berhasil Ditangkap pada Kuartal 2017


PEMUDA MARITIM Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) bersama Satgas 115, Polair dan TNI AL, serta jajaran pemerintah lainnya, telah berhasil menangkap 106 kapal ikan asing selama periode Januari – April 2017, yang diperoleh dari hasil penangkapan TNI ada 37 kapal, Satpolair (12 kapal) dan Ditjen PSDKP-KKP (57 kapal) yang terdiri dari 3 kapal Malaysia, 4 kapal Filipina dan 50 kapal Vietnam.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan ini merupakan jumlah yang paling banyak di periode yang sama, jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Hari ini kita umumkan dalam bulan Januari sampai April 2017, kita melakukan operasi patroli seperti biasa. Ternyata kita mendapatkan pencurian ikan ini makin luar biasa banyaknya. Bahkan mungkin bila dihitung per semester, per tri wulan, per kuartal tahun 2017 ini terbanyak daripada tahun lalu”, ujar Menteri Susi dalam gelaran konferensi pers di Kediaman Dinasnya, Komplek Widya Candra, Senayan, Jakarta pada Jumat (21/4).

Menteri Susi berharap koordinasi antar lembaga pemerintah, dapat diteruskan untuk menegakkan hukum dan menjaga kedaulatan negara. Seperti salah satunya adalah saat penyidikan kasus penemuan kapal asing yang masuk ke perairan Indonesia pada Jumat (21/4) pagi di perairan Anambas, Kepulauan Riau.

“Jadi ya kita berharap untuk kapal yang besar ini, kita bisa minta bantuan Interpol untuk bantu kita untuk menangkap kapal tersebut. Kapal ini bukan kapal ikan, tapi kapal yang bekerja mengambil BMKT (Benda Muatan Kapal yang Tenggelam),” terang Susi.

Kapal ini terbukti masuk di zona teritorial Indonesia karena personel TNI Al lebih dulu mengamankan seluruh anak buah kapal (ABK) di Tarempa dan Jemaja, Riau. Total ABK yang ditemukan saat penyelidikan berjumlah 20 orang, terdiri 16 Cina, 3 India dan 1 Malaysia.

Wakil Kepala Staff Angkatan Laut (Wakasal) Laksda Achmad Taudiqoerrochman mengatakan, awalnya tim TNI AL melakukan patroli seperti biasanya. Namun pagi tadi, ditemukan sebuah kapal yang mencurigakan dan akhirnya konsentrasi di Selat Malaka. Kemudian pihak TNI AL kerahkan tim patroli tambahan dari Jemaja.

“Tentunya ini bukan kapal perang yang kita kerahkan. Patroli kecil Bakamla dengan awak hanya 4 orang. Itu jaraknya 45 mill dari posisi kami. Itu pun tidak sekali jalan. Karena begitu kita berangkat, bahan bakar habis kita kembali. Hingga empat kali keluar, baru kita temukan di posisi itu. Kemudian personel kita yang 4 orang itu naik. Kita tanya dan sebagainya. Saat kita tanya, mereka bilang nahkodanya sedang turun ke darat. Jadi yang duapuluhanan itu kita tahan ke Jemaja dan Tarempa untuk pemeriksaan lebih lanjut”, jelasnya.

Pengangkutan 20 ABK tersebut dibantu dengan kapal nelayan sekitar. Tim patroli pun meninggalkan kapal karena posisi jangkar sedang turun dan sudah tidak ada awak kapal yang berada di atas kapal tersebut. Setelah itu, tim patroli mengerahkan kapal perang ke lokasi kapal asing berada. “Nah kemudian barulah kita kerahkan kapal perang ke sana.

“Nah pas kapal perang sudah sampai sana, kapal itu sudah tidak ada. Karena kita amankan dulu orangnya, kemudian laporan awal bahwa nakhodanya sedang turun, kemudian kita sudah bawa ABK-nya ke darat, maka kita perintahkan kapal perang ke sana untuk mengamankan itu,” lanjutnya.

Saat ini kapal asing tersebut sedang dalam pemeriksaan. Diketahui, kapal tersebut menurut Menteri Susi, diduga mengambil sisa kerangka Kapal Seven Skies milik Swedia dan kapal Igara Skies milik Jepang. Sumber : maritimnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply