Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Filosofi Ki Hajar Dewantara pada Pola Pendidikan Maritim


PEMUDA MARITIM - Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei ini ada baiknya kita mengulas soal hakikat pendidikan maritim di Indonesia. Tidak lupa, filosofi pendidikan maritim pun harus mengacu pada pola yang dibangun berdasarkan konsep pendidikan nasional Indonesia yang dirancang oleh Ki Hajar Dewantara yang termanivestasikan di dalam Pancasila dan UUD 1945.

Pendidikan yang dilandasi oleh geografis Indonesia yang didominasi oleh laut, sehingga memunculkan karakter alamiah masyarakatnya yang cenderung bercorak maritim. Kenyataan ini yang seharusnya terbangun di bangsa Indonesia. Namun karena adanya fenomena sejarah di mana Belanda mengubah karakter tersebut menjadi karakter daratan (kontinental) serta ditambah dengan salah kelolanya pembangunan kebijakan negara pasca NKRI terbentuk, maka makin sempurna bangunan karakter kontinental yang kokoh dan memunggungi lautan.

Oleh karena itu, pembangunan kembali (re-building) karakter kemaritiman bangsa Indonesia perlu ditumbuh kembangkan guna mewujudkan cita-cita negara maritim yang besar dan menjadi pusat peradaban dunia tanpa menghilangkan karakter kontinental, tetapi lebih menyempurnakan dan menyinkronkan dengan kondisi alamiah bangsa Indonesia. Jadi, tujuan membangun karakter kemaritiman bukan untuk menghilangkan karakter kontinental sebagaimana dikhawatirkan banyak orang saat ini.

Akan tetapi lebih kepada bagaimana maritim dan agraris berjalan bersamaan. Makna Jalesveva Jayamahe (Jaya di lautan dan daratan) pun berjalan seimbang, tetap utuh dan tidak ter-reduksi oleh dinamika yang berkembang.

Dalam hal ini, seluruhnya pun sepakat bahwa masalah pendidikan dan budaya merupakan hulu dari semua pemecahan permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam konteks kemaritiman dan cita-cita mencapai negara maritim yang besar dan digdaya. Sehingga pendidikan maritim merupakan fondasi dalam membentuk budaya maritim serta bangsa maritim yang jaya.

Karakter Kepemimpinan dan Kemaritiman

Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan serta cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan kemaritiman, dengan kata dasarnya ‘maritim’ merupakan sesuatu yang berhubungan dengan laut, sehingga kemaritiman merupakan kata sifat yang menggambarkan kejiwaan seseorang yang mengelola, memanfaatkan dan menjadikan laut sebagai wahana untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Dari penguraian secara etimologis tersebut, kita dapat menemukan arti karakter kemaritiman yakni sifat atau jiwa seseorang yang berpihak, bervisi, dan berinovatif dalam mengelola, memanfaatkan, dan menjadikan laut sebagai sarana untuk terangkatnya harkat dan martabat hidup bangsanya sebagai bentuk pengabdian dan rasa mensyukuri pada Nikmat Tuhan YME.

Ketika seseorang telah memiliki karakter kemaritiman, maka budaya maritim sudah pasti terbangun dengan sendirinya. Sementara jika budaya maritim dari sesorang terbangun, praktis individu tersebut memiliki kepemimpinan yang bervisi maritim (ocean leadership). Karena filosofi Ki Hajar Dewantara dalam mendidik ialah menjadikan setiap anak didiknya sebagai pemimpin.

Filosofi yang dikenal dengan Trilogi Kepemimpinan itu mencakup Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing madyo Mangun karso dan Tut Wuri Handayani. Secara umum, filosofi itu berisikan konsep pemimpin yang menjadi suri tauladan, penggerak dan motivator untuk anak buahnya serta penanggung jawab yang rela berkorban. Filosofi ini merupakan rangkuman dari Hasta Brata, filosofi Jawa tentang pemimpin yang digambarkan dengan komponen-komponen yang ada di alam semesta.

Jika setiap individu dalam suatu negara telah terbangun karakter demikian, maka negara kita tak akan mengalami krisis kepemimpinan seperti saat ini.

Begitu pun dengan terwujudnya peradaban maritim, sudah menjadi suatu keniscayaan jika bangsa ini memiliki tata urutan dan perangkat sistem seperti itu, di mana pemimpin merupakan produk terbaik dari proses pengajaran berdasarkan Trilogi Kepemimpinan. Pencapaian negara maritim yang sejalan dengan cita-cita NKRI dalam Pembukaan UUD 1945, yakni tercapainya rakyat Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Hal tersebut akan menjadi hasil yang kongruen dengan pembangunan peradaban maritim.

Seperti bait dalam lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR Supratman, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”. Dalam lirik bait tersebut jelas dinyatakan agar membangun segala sesuatu termasuk negara maritim yang besar haruslah membangun jiwanya terlebih dahulu. Sehingga badan dan perwujudan negara maritim ialah resultant dari pembangunan jiwa-jiwa (karakter) kemaritiman Indonesia.

Sudah menjadi formula baku bahwa karakter kemaritiman hanya diperoleh melalui proses pendidikan, sehingga format pendidikan maritim menjadi syarat utama bagi tumbuhnya karakter kemaritiman suatu bangsa. Maka dari itu pendidikan maritim untuk menanamkan karakter kemaritiman harus dimulai sejak dini.

Hal yang paling menonjol dalam filosofi pendidikan ala Ki Hajar Dewantara ialah pola pengajaran yang penuh dengan kekeluargaan dan kasih sayang. Semangat ini yang tentunya berbeda dengan praktik pengajaran ala STIP beberapa waktu lalu yang memberi pesan bahwa pola pendidikan pelaut sarat dengan kekerasan dan bernuansakan dendam.

Tri Sentra Pendidikan

Berdasarkan konsep Tri Sentra Ki Hajar Dewantara, di mana pendidikan selalu berawal dari alam keluarga, alam keguruan dan alam pengabdian masyarakat. Pendidikan dari alam keluarga cenderung bersifat informal dan dalam waktu peserta didik menempuh usia 0-13 tahun. Tak salah, walaupun pendidikan tahap ini bersifat informal tetapi menjadi bagian terpenting dalam pembangunan kebudayaan manusia karena jenjang ini menjadi fondasi dari bangunan kebudayaan.

Bila dalam jenjang ini terjadi transfer knowledge dan value yang tidak sempurna dari orang tua maupun lingkungan tempat dimana individu itu berada, maka dapat dipastikan bangunan budaya dan karakternya mengalami kerapuhan. Jika seorang guru atau pengajar dalam alam keguruan mengetahui peserta didiknya mengalami hal demikian maka ia harus cepat memberikan suplemen atau treatment bahkan inkubasi yang intensif agar fondasi bangunan budaya dan karakternya dapat tertutupi lubangnya.

Dalam pendidikan maritim, pada tahap ini memang sangat berpengaruh dari faktor keluarga dan lingkungannya. Maka jangan heran, dalam tahap ini biasanya lebih cepat perkembangan dari seseorang yang tinggal di pesisir atau memiliki keturunan dari orang-orang yang berkecimpung dengan laut (misal: TNI AL, nelayan, pelaut, dsb).

Karena sedikit banyaknya, penurunan knowledge dan value dari orang tua ke anaknya pasti berkaitan dengan profesinya. Dan bagi si anak apa yang dilihatnya pun cenderung melekat menjadi kebiasaan dan kemudian menjadi karakternya. Misalnya, anak-anak pesisir atau suku-suku pelaut, sudah dari kecil ruang hidupnya erat dengan laut, bahkan menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, sehingga karakter maritimnya tumbuh dengan pesat.

Pada tahap ini bahkan tahap-tahap berikutnya pendidikan maritim secara informal melalui lingkungan dan orang-orang terdekat tetap menjadi bagian penting dan tumpuan. Terlebih pendidikan seperti itu hari ini semakin marak ketika visi presiden poros maritim dunia digaungkan.

Setelah upaya informal dilakukan, berlanjut pada upaya formal sebagaimana konsep Tri Sentra Ki Hajar Dewantara, yakni alam keguruan. Maksud dari alam keguruan di sini ialah tahap pendidikan formal yang dilakukan baik sejak Paud, Taman Kanak-Kanak, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi.

Sejak pra kemerdekaan, metode seperti ini telah diperkenalakan baik oleh Belanda maupun Jepang. Tujuannya tidak lain ialah untuk menghasilkan para pelaut-pelaut atau SDM maritim yang dapat dipekerjakan kepada penjajah dengan biaya yang murah. Misalnya yang dilakukan oleh Belanda dalam membangun Akademi Pelayaran (Academie der Marine) atau Jepang yang membangun Sekolah Pelayaran Rendah (SPR) dan Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT).

Berikut beberapa sekolah-sekolah formal yang dibangun baik oleh pemerintah maupun swasta yang mengandung pembangunan pendidikan kemaritiman bagi masyarakat guna mewujudkan SDM maritim yang mumpuni. Di mana bentuk-bentuk sekolah itu dapat kita jadikan prototype pembangunan pendidikan kemaritiman Indonesia, misalnya Yayasan Hang Tuah. Yayasan milik TNI AL ini memilki jenjang pendidikan dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi yang telah memperkenalkan dasar-dasar Indonesia sebagai negara maritim.

Sehingga pendidikan maritim yang dilakukan di beberapa instansi tersebut hanya bersifat khusus dan eksklusif bagi kalangan tertentu. Bidang ini belum open dan inklusif yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Setelah alam keguruan, barulah memasuki alam pengabdian masyarakat. Pada tahap ini, SDM berkwalitas sebagai produk pendidikan di alam keluarga maupun keguruan telah berkiprah dan mendermakan diri untuk kemajuan bangsa dan negara dalam sektor maritim.

Kendati proses Tri Sentra tadi sudah berjalan di beberapa instansi, tidak menutup kemungkinan agar spektrumnya diperluas hingga menjamah seluruh lapisan masyarakat dan jenjang pendidikan.

Kurikulum kemaritiman yang sedang dirancang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kemenko bidang Kemaritiman bisa menjadi jawaban untuk menstimulasi karakter kemaritiman sejak usia dini. Hal itu merupakan strategi percepatan yang mencakup teknik dan metode pembelajaran yang efektif untuk menuju SDM maritim yang mumpuni serta ocean leadership yang tangguh. source


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply