Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Front Nelayan Indonesia sebut Alat Tangkap Gill Net makin Sulitkan Nelayan


PEMUDA MARITIM - Perkembangan perikanan Indonesia semakin memburuk. Di seluruh Indonesia dimulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Manado, Bitung, Lamongan dan lainnya sudah bergejolak untuk melakukan penuntutan kepada pemerintah khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpin oleh Susi Pudjiastuti.

“Nampaknya alat tangkap bantuan pemerintah tak membuat nelayan kembali melaut, malah nelayan semakin menyusahkan dirinya,” ujar Ketua Umum Front Nelayan Indonesia, Rusdianto Samawa melalui siaran persnya yang diterima redaksi beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pengamatannya di lapangan, bahwa model alat tangkap Gill Net yang ditawarkan pemerintah tidak cocok dengan kebiasaan nelayan yang berukuran kapal 30 Gross Ton.

Alat tangkap Gill Net dikhawatirkan akan menyapu seluruh biota laut. Karena besar dan kecil mata jaring tidak ditentukan sedetail mungkin. Kelemahan Gill Net adalah benda apapun yang tersangkut maka akan membuat jaring kotor dan sulit untuk dibersihkan.

“Alat tangkap Gill Net ini tidak dengan kapal ber-Gross Ton tinggi. Gill Net hanya cocok dengan kapal 5 Gross Ton ke bawah. Kalau 5 GT disebut sampan atau perahu bukan kapal,” selorohnya.

Pria yang aktif di PP Muhammadyah ini juga menyatakan bahwa lingkaran jarring pada alat itu ada bahan yang memberatkan ujung Gill Net sehingga sampai ke dasar laut.

Sementara alat tangkap Gill Net yang digemborkan oleh Menteri Susi hanya untuk 5 Gross Ton ke bawah. “Lalu mengapa dikatakan pengangganti alat tangkap Cantrang dan Payang. Sementara Cantrang dan Payang di atas 30 GT dan di bawah 30 GT,” tegas Rusdianto yang juga aktif menjadi ketua Lembaga Bantuan Hukum untuk Nelayan.

Menurutnya kebijakan ini perlu dicerdaskan bahwa alat tangkap yang dipopulerkan itu ketinggalan zaman. Tak bisa mengangkat kekuatan aspek ekonomi sosial yang sudah menjadi masalah sebelumnya.

Seperti pengalaman beberapa nelayan Cantrang yang mencoba beralih ke Gill Net, tetapi tetap mendapat kesulitan. Peralihan ke Gill Net membutuhkan modal yang sangat besar dan hasilnya Gill Net belum terasa.

“Mengapa Cantrang layak diperjuangkan dan dipertahankan? karena semua pemilik Cantrang belum tentu memiliki modal yang banyak untuk ganti alat tangkapnya ke Gill Net,” tegasnya lagi.

Berdasarkan pantauannya, ABK-ABK yang bekerja di Cantrang akan menganggur karena kapal-kapal Gill Net ABK-nya rata-rata berasal dari Indramayu yang merupakan daerah percontohan dan spesialis Gill Net yang sudah dipersiapkan oleh KKP.

Sementara kapal-kapal Cantrang dengan muatan tanggung 30 – 80 ton sangat sulit ke laut Merauke, Arafura, Natuna karena perjalanan jauh dan butuh perbekalan sangat banyak.

“Alat tangkap ini ternyata hasil tangkapannya tidak bagus. Malah merusak lingkungan karena mata jaring yang kecil dan memiliki bahan pemberat hingga ke dasar laut,” bebernya

Lebih lanjut dia mengutarakan alat tangkap jenis ini tidak jelas definisinya, sejarahnya, asalnya dari mana?. Alat tangkap Gill Net dinilai sangat tidak ramah kehidupan sosial. “Karena justru membuat konflik sosial yang sangat akut. Misalnya utang nelayan sebelumnya di Bank-Bank yang merupakan agunan alat tangkap sebelumnya pun belum lunas,” seloroh Rusdianto.

Kini Menteri Susi memaksa nelayan pindah ke alat tangkap baru, sehingga ikut melahirkan utang baru lagi. Rusdianto tegas menyatakan bahwa dalam situasi ini, Gill Net bukan solusi bagi nelayan, karena akan banyak melahirkan utang bagi nelayan.

“Justru inilah konflik yang sejatinya terjadi karena ketika nelayan memakai alat tangkap biasa dipakai, lalu Susi Pudjiastuti melarangnya dengan alat tangkap Gill Net yang justru nelayan kembali ke masa lampau tahun 1900-an,” ungkapnya.
Masih kata Rusdiantom karena setelah mendapat bantuan alat tangkap Gill Net malah banyak dijual oleh nelayan. Penyebabnya justru tidak cocok dengan kondisi lautnya serta tidak sesuai spesifikasi kapal nelayan.

Selain itu, nelayan membutuhkan modal yang banyak untuk menyesuaikan. Nelayan masih mencoba, tetapi setelah dilihat spesifikasinya per orang ada 11 pis alat tangkap. “Kalau hitung kerugian untuk menyesuaikan tentu sangat mahal sekali, kita perlu meminjam uang lagi ke bank,” pungkasnya.

Sumber: maritimnews.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply