Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » KM Mutiara Sentosa I Terbakar, Maritim Indonesia Tercoreng pada Momen Harkitnas


PEMUDA MARITIM - Tepat hari ini 20 Mei 2017 merupakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Hari ini adalah peringatan terhadap momentum kebangkitan pribumi Indonesia yang ditandai dengan berdirinya organisasi pergerakan pertama, Budi Utomo.

Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno menetapkan 20 Mei ini sebagai Hari Kebangkitan Nasional pada 1948 untuk menyatukan setiap elemen di bangsa ini.

Menurut Sekjen Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI), momentum ini seharusnya dijadikan stimulasi kebangkitan maritim Indonesia. Namun, ternyata justru sebaliknya, di hari ini, dunia maritim Indonesia kembali tercoreng dengan peristiwa terbakarnya KM Mutiara Sentosa I di Perairan Masalembo, Jawa Timur, (19/5).

"Tentunya hal ini menjadi sebuah catatan yang cukup kelam bagi dunia kemaritiman Indonesia tepat pada Hari Kebangkitan Nasional. Dari kronologis yang terjadi KM Mutiara Sentosa I sempat terkatung-katung, kemudian terbakar," ujarnya di Jakarta (20/5).

Dalam hal ini secara teknis yang perlu bertangung jawab adalah pihak KSOP Tanjung Perak mengingat sebelum keluar, kapal tersebut berada di bawah kendalinya. Dari pantauan APMI sejak 2016, tercatat ada 439 kecelakaan kapal, 51 di antaranya kejadian kapal terbakar.

"Jika pemerintah tidak mengambil sikap tegas dengan mencopot oknum-oknum Perhubungan Laut yang bermain dengan regulasi sama saja dengan mengubur diri sendiri pada visi presiden untuk menuju Poros Maritim Dunia," imbuhnya.

Mengingat perjalanan visi poros maritim sudah hampir sampai pada akhir masa jabatan pada 2019 mendatang, maka langkah strategis ini perlu diambil secara taktis oleh pimpinan Negara.

Ahlan mengungkapkan bahwa catatan buruk ini akan menjadi senjata politis bagi lawan-lawan politik yang siap bertarung pada momentum lima tahunan di Pilpres 2019.

"Sejak diangkatnya visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia oleh Presiden Jokowi, diharapkan Indonesia mampu berbicara di tataran regional dan global. Tetapi dengan kejadian ini seakan kita belum tuntas dalam mengurus keselamatan pelayaran nasional kita," bebernya.

Lebih lanjut, lulusan Perkapalan Undip ini menyatakan ketika Internasional mengenal Singapura sebagai sentra bisnis ASEAN, maka Indonesia siap untuk mengambil langkah strategis itu untuk berperan di kawasan.

"Lalu negeri tetangga dan dunia pun akan menyatakan bagaimana menjadi Poros Maritim Dunia kalau kecelakaan kapal masih marak di dalam negeri," selorohnya.

Mengutip pernyataan dari Sekjen IMO, Ahlan menyatakan 80% perdagangan dunia melalui laut. Senada dengan pernyataan dari anggota INSA (Indonesia National Shipowners Association) Supriyanto, 40%-nya melalui laut Indonesia.

"Sayangnya sampai saat ini Indonesia belum mampu memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal," keluhnya.

Praktis kejadian terbakarnya KM Mutiara Sentosa I yang menambah daftar hitam kecelakaan kapal di Indonesia semakin menurunkan kepercayaan dunia internasional kepada kita.

Sambung Ahlan, berlabuhnya sebuah kapal di pelabuhan tentunya dilatar belakangi bukan hanya dari lokasi pengiriman barang yang diangkut. Melainkan juga melihat bagaimana dukungan fasilitas terhadap pelabuhan yang berada di sebuah negara.

Di samping itu pengusaha pelayaran juga mempertimbangkan tentang aspek keselamatan dan keamanan yang berada di sebuah negara.

"Ini menjadi penting karena peraturan pelayaran dunia diatur secara internasional yang tertuang pada beberapa peraturan dan konvensi mulai dari aspek kemanan dan keselamatan di laut disebut dengan SOLAS, polusi yang dihasilkan disebut aturan MARPOL, garis muat disebut Load Line, dan beberapa peraturan lainnya," jelasnya.

Pria yang pernah berkerja di perusahaan galangan Korea Selatan ini selanjutnya menuturkan peraturan yang tertuang secara internasional itu tentunya mengikat kepada semua negara yang menjalankan aktivitasnya di laut, termasuk Indonesia.

"Melihat dari sejarah pembentukan IMO berasal dari kejadian kapal Titanic yang menabrak gunung es pada tahun 1912. Sejarah tersebut mengartikan bahwa kejadian di laut dapat berdampak kepada posisi sebuah negara di internasional," pungkas Ahlan.


Sumber: Maritimnews

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply