Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Mengenal ‘Sawora’, Kearifan Lokal Teluk Cendrawasih


PEMUDA MARITIM - Manokwari – Berada di wilayah Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih (TNTC), Kampung Sombokoro dianugerahi laut yang sangat indah. Pesona pasir putih, terumbu karang dan keanekaragaman flora dan fauna bawah lautnya yang masih asri, membuat Somboko layak dijadikan salah destinasi wisata bahari yang ada di Indonesia.

Kampung Sombokoro dengan jumlah penduduk sebanyak 52 kepala keluarga dan 242 jiwa, masuk di dalam wilayah administrasi Pemerintahan Distrik/Kecamatan Windesi, Kabupaten Teluk Wondama. Masyarakat Sombokoro mempunyai cara tersendiri menjaga keanekaragaman hayati yang berada di wilayah laut kampungnya.

Sawora atau Sasi yang berarti Sumpah Tempat dalam Bahasa Indonesia merupakan kearifan lokal masyarakat Sombokoro untuk mengkonservasi atau menjaga kekayaan lautnya. Atas nama Tuhan, masyarakat Sombokoro bersumpah (Sawora) untuk tidak melakukan pemanfaatan di wilayah laut Sombokoro selama 1 tahun atau lebih.

Prosesi adat tutup Sawora dilaksanakan masyarakat kampung Sombokoro 30 April 2016 lalu. Sebesar 345.203 Ha wilayah laut di pesisir Sombokoro mulai dari Tanjung Ronawadu sampai Tanjung Kornamis ditutup untuk segala jenis pemanfaatan laut baik memancing, menangkap dan mengambil biota laut apapun.

Dengan adanya Sawora ini, masyarakat kampung Sombokoro berharap wilayah lautnya menjadi Bank Ikan, sehingga saat tiba waktu buka Sawora, masyarakat bisa menikmati hasil laut yang berlimpah.

Setelah dilakukan survey potensi Sumber daya alam (SDA) oleh kelompok pengelola Sawora pada bulan Maret 2017 lalu menggunakan metode pengamatan lamun  dan terumbu karang yang dilakukan dengan under water visual sensus. Didapati potensi species tertentu berupa ikan, teripang dan lobster yang cukup berlimpah.

Namun sesuai kesepakatan bersama secara musyawarah adat, baik masyarakat dan pihak gereja. Mereka sepakat prosesi buka Sawora awalnya akan dilakukan pada 30 April tahun 2017, namun  ditunda 1 tahun pada 30 April 2018. Hal tersebut dilakukan agar potensi laut yang ada semakin berlimpah.

Perpanjangan waktu tutup Sawora pun dilakukan masyarakat Kampung Sombokoro pada senin (1/5) kemarin. Dipimpin oleh Kepala Kampung menggunakan perahu perahu kecil atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan Jonson, bersama sama masyarakat kampung Sombokoro menuju salah satu tempat bernama Sora.

Di tempat itulah masyarakat dipimpin oleh salah satu pemuka agama setempat, kembali bersumpah (Sawora) untuk menutup pesisir laut Sombokoro dari semua aktifitas pemanfaatan selama 1 tahun ke depan.

“Di tempat ini kami bersumpah atas nama Tuhan, untuk tidak melakukan aktifitas memancing, menangkap apapun yang ada di wilayah ini sampai 1 tahun kedepan, kami berharap Tuhan memberikan berlimpahnya berkat nantinya, apabila ada yang melanggar maka akan mendapatkan balasan oleh Tuhan,” bunyi Sawora yang diamini oleh semua masyarakat.

Selama tutup Sawora, semua masyarakat hanya diperbolehkan memanfaatkan hasil laut di luar lokasi Sawora. Setelah bersama sama melakukan Sawora, masyarakat kembali ke kampung untuk menyantap makan yang sudah dimasak oleh Ibu-ibu di kampung Sombokoro.

Ismail Munuari mengungkapkan Sawora harus dipatuhi oleh semua masyarakat baik di dalam maupun luar Sombokoro. Sehingga dalam waktu dekat ini pihaknya akan menyurat kepada Balai Taman Nasional Teluk Cendrawasih (BBTNTC), Perusahaan, Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Distrik dan Kampung di sekitar Sombokoro agar menginformasikan kepada masyarakat tentang pelaksanaan Sawora di Sombokoro.

Selain untuk menabung Ikan, Sawora diharapkan juga mendukung rencana pengembangan Sombokoro menjadi Kampung Wisata. “Kalau ikan banyak, turis yang datang akan senang, mereka bisa menyelam senang lihat banyak ikan,”ungkapnya seraya mengatakan Pemerintah Kampung tahun ini akan membangun homestay untuk wisatawan,” ujar Ismail.

Sementara Sekretaris Kampung Sombokoro, Petrus Kaikatui mengatakan walaupun belum dilakukan pembukaan Sawora namun hasilnya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat, karena banyaknya Ikan dan biota laut lainnya di lokasi Sawora mempengaruhi wilayah di luar Sawora.

“Kita sudah lihat hasilnya, diluar lokasi saja sudah lumayan, Ikan bolana naik naik kaya apa, apalagi didalam lokasi Sawora, kita harap hasil panen pada tahun 2018 akan memuaskan,”kata Petrus.

Hasil panen Ikan setelah buka Sawora tahun depan, menurut Kaikutui akan dibagikan kepada masyarakat untuk dikonsumsi dan dijual. Sebagian hasil penjualan nantinya akan disumbangkan ke gereja.

Sawora menjadi model kearifan lokal yang harus dikembangkan dan diturunkan kepada generasi penerus untuk menjaga keanekaragaman bahari di wilayah laut TNTC. Hayatinya wilayah Taman laut terbesar di tanah air ini diharapkan juga ikut mendukung program Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia. source

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply