Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Pesan Islam dan Maritim dari Universitas Muhammadyah Surakarta


PEMUDA MARITIM - Universitas Muhammadyah Surakarta (UMS) pada Jumat, (26/5) baru saja menggelar acara Kuliah Umum dan Bedah Buku ‘Konsep Neogeopolitik Maritim Indonesia Abad 21: Ancaman Zionis dan China’ yang dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Hukum UMS Dr Natangsa Surbakti S.H M.Hum.

Dalam sambutannya, Dekan FH UMS menyatakan bahwa maritim merupakan jatidiri bangsa Indonesia karena wilayahnya didominasi oleh laut. Namun seiring berjalannya waktu terus terjadi Ancaman, Tantangan, Hambatan dan Gangguan (ATHG) di territorial Indonesia yang semakin dinamis.

Sehingga diperlukan strategi yang komprehensif dalam menghadapi situasi tersebut. Maka dari itu isi buku ini menjabarkan panduan filosofis dan praktis tentang bagaimana Indonesia yang saat ini memiliki visi Poros Maritim Dunia di abad 21 harus menghadapi perang asimetris dalam skala global.

Letkol Laut (P) Salim selaku penulis buku dalam pemaparannya menerangkan bahwa filosofi membangun kemaritiman Indonesia berangkat dari sejarah perjalanan bangsanya. Menurutnya, perjalanan sejarah Indonesia yang dahulunya bernama Nusantara itu merupakan representasi dari Negeri Atlantis dan Saba.

“Ini sudah tertulis di Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 6 yang menjelaskan perjalanan suatu negeri yang dilimpahkan keberkahan oleh Allah pada akhirnya dibinasakan karena penduduknya melakukan suatu dosa,” ujar Salim.

Pria yang sehari-hari menjabat sebagai Staf Asops Mabes TNI ini menyatakan kebenaran itu harus dapat dibuktikan dan kemudian diyakini. Pasalnya banyak rakyat Indonesia saat ini terutama generasi muda dan mahasiswanya mengingkari kebenaran sejarah tersebut.

“Masuknya VOC ke Nusantara punya misi untuk menjajah dengan cara mengaburkan sejarahnya, putuskan hubungan dengan leluhurnya dan sematkan sebagai bangsa bodoh dan primitif. Sehingga dampak itu berlangsung sampai sekarang di mana mental bangsa kita menjadi mental inlandeer,” jelasnya.

Selanjutnya, lulusan AAL tahun 1995 itu meyakini bangsa Indonesia sebagai kelanjutan Negeri Saba merupakan keturunan orang-orang hebat (para-Nabi-red). Berbagai bukti dari baik maupun buruk, seluruhnya ada di sini.

“Perjalanan para nabi selalu diikuti adanya orang-orang yang beriman dan yang membangkang. Itu pun berlangsung sampai saat ini, seperti adanya fenomena homoseksual seperti kaum Luth maupun penyembah berhala juga ada,” bebernya.

Pamen TNI AL yang aktif berpuasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) itu mempercayai bila kita terus berdoa dan berikhtiar makan Tuhan akan memperjalankannya serta memberikan kekuatan dalam menghadapi kondisi seperti ini. Ia pun meyakini bahwa nilai-nilai Islam terutama dalam membangun kemaritiman tidak bisa dilepaskan.

“Di bangsa kita, semua sudah termanivestasi dalam Pancasila dan UUD 45 (naskah asli) yang menayngkut aspek keislaman dan adat keluhuran. Sekarang tinggal bagaimana kita mengembalikan filosofi itu di tengah-tengah karut marut saat ini,” tegasnya.

Dalam buku itu, solusi untuk mengembalikan kejayaan maritim bangsa Indonesia hanya dengan Dekrit guna mengembalikan kedudukan Pancasila dan UUD 45 dengan benar. Hal itu pernah dilakukan oleh Bung Karno pada 5 Juli 1959 untuk meneguhkan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957.

Penanggap buku dalam acara itu ada Pemimpin Redaksi Maritime Observer Arif Giyanto dan Farhan Hakim dari Gerakan Pemuda Maritim Indonesia (GPMI).

Dalam uraiannya, Arif Giyanto menyarankan  kepada mahasiswa UMS sebagai almamaternya untuk belajar maritim. Karena maritime dapat masuk di semua bidang dan lintas akademis.

“Yang perlu kalian pahami adalah apa itu maritim dan bahari, kemudian pelajari isi Deklarasi Djuanda dan UNCLOS 1982, di situ melekat pula wawasan kebangsaan,” terang Arif.

Sambung pria yang pernah menjadi Redaktur di Jurnal Maritim ini, mempelajari maritim perlu melihat potensi di daerahnya. Oleh karena itu ia setuju jika pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa UMS ke pulau-pulau terluar di Indonesia.

“KKN UMS itu jangan hanya di Sukoharjo saja, tapi kunjungi lah pulau-pulau terluar Indonesia,” selorohnya.

Sedangkan Farhan Hakim dari GPMI lebih menekankan implementasi dari mempelajari kemaritiman dengan banyak kajian lalu menulis. Hal itu lah yang selama ini dilakukan dirinya bersama GPMI.

“Kami selalu melakukan kajian tentang kemaritiman hasilnya bisa dibuat suatu artikel. Kami juga memiliki masyarakat binaan di Pulau Tunda, Banten untuk observasi langsung tentang kehidupan masyarakat pesisir,” kata Farhan.

Lulusan Kelautan Undip itu mengungkapkan apresiasinya kepada Letkol Laut (P) Salim yang sudah memberikan contoh kepada kita semua agar semangat dalam menulis di tengah kesibukannya. Hal itu ia lontarkan karena saat ini kondisi mahasiswa mengalami penurunan kemauan dalam menulis.

“Harusnya sebagai mahasiswa lebih semangat dalam menulis dari seorang TNI aktif,” imbuhnya,

Acara ini dimoderatori Dosen Hukum Tata Negara UMS Galang Taufan. Ia pula yang menginisiasi bergulirnya acara ini untuk menanamkan cinta maritim bagi mahasiswa UMS. Animo peserta bedah buku ini sangat tinggi dari mahasiswa UMS. Bahkan beberapa mahasiswa dari Semarang turut hadir dalam acara itu.


Sumber: Maritimews

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply