Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Uniknya Pulau Bungin, Pulau Terpadat di Dunia yang Ada di Indonesia


PEMUDA MARITIM - Traveling tak melulu soal mendaki gunung yang tinggi, menyelami birunya lautan, atau bersantai di taman kota. Sesekali siapkan anggaran untuk mengunjungi pulau terpadat di dunia yakni Pulau Bungin. Pulau Bungin terletak Kecamatan Alas, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat,

Tidak sulit untuk menemukan. Dari Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa, hanya sekitar 70 KM barat. Sementara itu, dari Mataram, menghabiskan waktu berkeliling 6 sampai 8 jam perjalanan ke timur, termasuk kapal-kapal laut wisata melintasi Lombok-Sumbawa.

Bungin bermakna pasir putih yang muncul di tengah lautan. Nama yang cocok bagi sebuah pulau yang berdiri di atas batu karang di tengah lautan. Luas pulau ini dulunya hanya sekitar tiga hektare, dan kemudian makin meluas hingga mencapai kira-kira delapan hektare saat ini. Uniknya, di lahan sesempit ini berpenghuni sekitar 900 kepala keluarga atau 3.097 jiwa. Itulah alasan kenapa pulau ini dijuluki sebagai pulau terpadat di dunia.

Selain perihal kepadatannya, predikat pulau terpadat di dunia membuat pulau mungil ini menyimpan sederet keunikan. Tak heran, jika pulau ini merupakan salah satu surganya photografer.

Di pulau ini kamu bisa menyaksikan langsung kambing pemakan kertas. Tidak adanya lahan pertanian, perkebunan, maupun peternakan membuat satu-satunya jenis ternak yang berada di pulau tersebut, yaitu kambing, terpaksa harus memakan kertas koran, uang yang tercecer, dan baju-baju yang telah robek.

Selain itu kamu akan menyaksikan deretan rumah panggung beraneka warna dengan sederet perahu nelayan. Hal ini tentu menjadi landscape menarik bagi para pemburu foto. Yang tidak kalah unik, daratan yang dulunya terpisah  dari Kecamatan Alas ini juga dihuni sekitar 10 suku, sebagian besar berasal dari suku Bugis dan Bajo. Tentu, keberadaan suku Bajo dan Bugis ini tidak lepas dari sejarah masa lalu Kerajaan Sumbawa.

Pulau Bungin pun memiliki hukum ketat mengenai adat perkawinan. Pasangan muda yang hendak menikah wajib membangun lokasi sendiri untuk mendirikan rumah mereka. Caranya dengan mengumpulkan batu karang untuk ditumpuk pada sisi luar pulau yang sudah ditentukan. Setelah lokasi terbentuk, barulah mereka boleh menikah dan mendirikan rumah. Itu sebabnya, luas Pulau Bungin terus bertambah dari tahun ke tahun, sehingga dapat mengakomodasi pertambahan penduduk.

Pulau yang kini sudah terhubung dengan dataran Kecamatan Alas ini perlahan menjadi daerah tujuan wisata bagi para turis. Para petualang bisa menikmati keindahan sunset atau pun sunrise di sini. Pengunjung bisa merasakan aroma bulan madu di atas perahu-perahu.

Bermalam di atas perahu masyarakat Pulau Bungin saat bulan purnama benar-benar memberikan sensasi romantis. Selain surganya photografer, Pulau Bungin juga perlahan menjadi arena bermain favorit baru para traveler nasional.



Sumber: jadiberita.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply