Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Ini Dukungan untuk Susi ‘Stop Cantrang’ dari Nelayan Masalembu


PEMUDA MARITIM – Masyarakat nelayan Masalembu mengadakan upacara petik laut di Desa Masalima, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Minggu (16/7). Ritual adat yang dalam bahasa setempat disebut ‘rokat tase’ ini diselenggarakan sebagai bentuk konsolidasi masyarakat nelayan tradisonal untuk mengemukakan respon positif mereka terhadap kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang melarang penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan.

Anggota DPRD Sumenep asal Masalembu, Darul Hasyim Fath menjelaskan, acara ini murni inisiatif masyarakat setempat, bukan bentuk reaksi masyarakat Masalembu terhadap aksi demo nelayan menolak pelarangan cantrang di Istana Negara Jakarta, Selasa lalu (11/7).

"Acara ini bukan reaksi yang kemarin, acara ini sudah direncanakan sejak lama, dan ini rutin diselenggarakan tiap tahun, isyarat bahwa nelayan tradisional masih berjalan di garis sejarah yang diajarkan nenek moyangnya. Kemudian saya berdiskusi dengan para nelayan dan sepakat untuk menjadikan momentum sebagai momentum konsolidasi masyarakat nelayan tradisonal untuk mengirim isyarat pada pemerintah di Jakarta bahwa apa yang dilakukan Menteri Susi benar," terang Darul.

Darul menyampaikan, nelayan Masalembu tidak pernah menggunakan cantrang untuk menangkap ikan. Mereka menggunakan pancingan dan payang dengan lebar 1 inci dan panjang 15-35 meter. Meskipun demikian, nelayan dapat menangkap ikan dalam jumlah besar. Bahkan dengan kapal kecil mereka berhasil menangkap 2-3 ton ikan. Bila dikalkulasikan, masyarakat setempat bisa memperoleh Rp20 juta – Rp25 juta per kapalnya.

Seperti halnya cantrang, payang juga termasuk kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat tarik (seines net). Berbeda dengan jenis pukat tarik lainnya, payang masih dapat ditolerir penggunaannya di hampir setiap Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dengan syarat dioperasikan menggunakan kapal berukuran 5-10 GT, dengan ukuran mata jaring > 1 inchi dan panjang tali ris tak lebih dari 100 m.

"Masyarakat di sini menggunakan payang, alat ini tidak menangkap ikan hingga ke dasar laut sehingga tidak merusak biota laut, bahkan dengan menggunakan payang pendapatan mereka apabila sedang beruntung bisa melebihi gaji camat," terang Darul.

Darul berpendapat, kebijakan pelarangan cantrang yang dinilai menciptakan kemiskinan sangatlah tidak benar. Justru menurutnya ini adalah upaya untuk menyelamatkan laut dan perikanan Indonesia, yang belakangan telah menyumbang cukup besar terhadap devisa negara. "Zaman dahulu mana berani kita mengharap devisa negara (dari perikanan)," tambah Darul.

Nelayan Masalembu mengeluhkan penggunaan cantrang  yang telah merusak biota laut serta alat tangkap milik masyarakat sekitar. Padahal mereka sudah mengeluarkan biaya yang besar guna pengadaannya.

Penggunaan cantrang telah mengakibatkan konflik antarnelayan. Misalnya, sejak 30 tahun lalu nelayan Masalembu berkonflik dengan nelayan Pati, Rembang, Pekalongan, dan Tegal yang aktif menggunakan cantrang. Nelayan yang mendukung pelarangan cantrang berpendapat, penggunaan cantrang merupakan praktik yang tidak beretika ibarat 'menyangkul sawah' tetangga. Bagi nelayan mempertahankan laut sama saja dengan mempertahankan segala hal yang dianggap berharga.

Untuk menunjukkan rasa berduka terhadap penggunaan cantrang yang semakin masif, nelayan Masalembu bahkan mengibarkan bendera setengah tiang sembari berlayar ke tengah laut pada Upacara Petik Laut (Rokat Tase’).

Darul mengungkapkan bahwa acara ini ditujukan pula untuk mengungkapkan kekecewaan nelayan terhadap penggunaan cantrang sebab sebelum maraknya penggunaan cantrang, para nelayan dapat dengan mudah memancing di pinggir pantai. Namun sekarang untuk menangkap ikan mereka harus berlayar sejauh 15 mil.

"Menolak cantrang bukanlah isyarat menolak industrialisasi perikanan. Cantrang sangat tidak ramah. Dengan adanya cantrang batu-batu karang ikut tertarik semua. Hewan-hewan kecil yang belum sempat berkembang biak tertangkap. Ini mengkespresikan tetap ramah dengan lingkungan. Jangan biarkan laut rusak seketika untuk kepentingan industrialisasi tanpa empati kepada manusia yang menghuni pulau ini," tegasnya.

Guna menyampaikan rasa terima kasih kepada laut dan menunjukkan kepada Indonesia bahwa masyarakat Masalembu mampu menerapkan prinsip "take and give" kepada laut dengan menangkap ikan di laut namun tidak merusak biota laut, pihaknya mengadakan Upacara Petik Laut (Rokat Tase’).

Sebagai informasi, rangkaian acara dibuka dengan Khotmil Quran pada Sabtu (15/7) malam oleh masyarakat setempat. Kemudian pada Minggu (16/7) pagi, acara dimulai dengan pawai ibu-ibu serta putri-putri nelayan dengan membawa 250 nasi tumpeng dari rumah kepala desa menuju pantai utama di samping dermaga pelabuhan Masalembu.

Selain itu, ada lebih dari 1000 nelayan membasahi kapal mereka dengan air yang sudah dibacakan doa sesuai adat istiadat setempat. Sebagai acara puncak, juga diadakan arak-arakan perahu sejauh 5 – 10 mil untuk melepas nampan berisi makanan serta tulang dan kulit kambing ke tengah laut.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply