Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Ulasan APMI untuk Bangkitkan Kembali Kejayaan Pelra


PEMUDA MARITIM – Permasalahan Indonesia Traditional Shipping atau biasa yang dikenal Pelayaran Rakyat (Pelra) ini ternyata menggugah kepedulian praktisi muda perkapalan Indonesia yang terhimpun dalam Assosiasi Pemuda Mariti Indonesia (APMI). Melalui Ketua Bidang Hubungan Internasional, Dwitya Harist Waskito yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa Engineering Science di University of Southampton, United Kingdom, APMI menyatakan pandangannya soal masalah Pelra di Indonesia yang semakin suram nasibnya saat ini.

Melalui pesan singkatnya yang diterima oleh redaksi, Senin (24/7), pemuda yang akrab disapa Tito ini mengurai dari sisi teknik perkapalan hingga manajemen pelayarannya. Pasalnya pelayaran yang dahulu digadang-gadang sebagai jantung perekonomian maritim rakyat itu, khususnya di daerah Terpelosok, Terpencil, Tertinggal (3T) saat ini mulai sedikit jumlah kapalnya.

"Masih banyak kapal-kapal Pelra kita yang masih berbahan dasar kayu. Sehingga kita kekurangan bahan dasar itu untuk membuat kapal Pelra karena kayu sudah semakin langka," ujar Tito.

Tak hanya itu, pemuda kelahiran Bogor, 19 Maret 1992 ini juga mengungkapkan adanya performa "Seakeeping" yang kurang baik dari kapal Pelra pada saat melintasi perairan dengan ombak tinggi.

Menurut data APMI tahun 2016, terdapat 439 kecelakaan kapal di Indonesia yang setengahnya merupakan kapal Pelra. Sehingga regulasi yang menyangkut kelaikan untuk kapal-kapal Pelra perlu ditingkatkan.

Masalah berikutnya yang dipaparkan oleh Tito adalah soal jadwal kapal yang simpang siur. Menurutnya, masalah ini akan menghambat distribusi barang ke daerah-daerah yang menyandang 3 T.

"Kecepatan kapal dirasa kurang untuk moda transportasi barang yang terjadwal merupakan kendala besar dalam Pelra. Belum lagi adanya jadwal yang tidak jelas, di mana kapal berangkat hanya jika ada muatan," tuturnya.

Lebih lanjut, pria lulusan S1 Perkapalan UI ini juga memberi solusi bagi permasalahan-permasalahan yang diurainya. Ia menjelaskan dari konstruksi kapal hingga jadwal perlu diperbaiki guna mengangkat kembali kejayaan Pelra.

"Lambung utama kapal bisa menggunakan baja, namun bagian deck ke atas tetap menggunakan kayu, Ini untuk menjaga tradisi kapal pelayaran rakyat yang sarat dengan tradisi dan budaya suatu daerah," terangnya.

Selain baja, bahan alternatif lainnya adalah menggunakan FRP (Fiber Reinforced) composites untuk kapal pelayaran rakyat di bawah 20 GT. Penggunaan bahan itu kini sudah banyak digunakan oleh beberapa galangan di tanah air.

Soal pembatasan muatan yang berada di atas deck, sambung Tito, untuk menjaga stabilitias kapal solusinya dengan memberbanyak ruang muat di dalam lambung kapal. "Bagian muatan yang berat diletakkan di dasar kapal untuk menjaga centre of gravity (stabilitas kapal-red) agar kapal tidak mudah terbalik. Karena banyak kasus kecelakaan kapal Pelra salah satunya akibat kelebihan muatan dan tidak seimbang," beber dia.

Dari data yang dihimpunnya dahulu saat masih berada di Indonesia, ia menerangkan bahwa mesin yang digunakan adalah mesin (non-marine). Sehingga dibutuhkan mesin yang tangguh untuk performa kapal Pelra, yang selain untuk kecepatan kapal juga untuk keselamatan penumpangnya.

"Kapal Pelra harus diberi bantuan berupa mesin utama kapal. Soalnya masih banyak kapal Pelra yang menggunakan mesin-mesin non marine," pungkas pria yang saat ini mendalami Naval Architecture tersebut.

Suatu wacana yang mengemuka saat ini guna menyelamatkan eksistensi kapal Pelra ialah untuk digunakan pada industri pariwisata bahari. Hal tersebut telah diulas oleh organisasi Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) bersama Deputi IV Kemenko Maritim di Bogor beberapa waktu lalu.




Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply