Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Pramarin Dorong FGD Pelra Dukung Wisata Bahari


PEMUDA MARITIM – Guna menyelamatkan usaha Pelayaran Rakyat (Pelra) yang kini semakin menurun lantaran sulit muatan, Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) mendorong sebuah Focus Group Discusion  (FGD) bertajuk 'Pelra Mendukung Wisata Bahari'.

"Mengingat saat ini pemerintah sedang mengembangkan wisata bahari dan pendapatan di Pelra semakin menurun maka alangkah baiknya diarahkan ke wisata bahari. Oleha karena itu kami mendorong FGD untuk menampung ide agar lebih matang," kata Wakil Ketua Umum (WKU) 8 Pramarin bidang Pelra, Perikanan dan Wisata Bahari Djoko Setiono Mardi di kantornya, Kelapa Gading, Jakarta (28/7).

Pria yang lama tinggal di Eropa ini melihat potensi kapal-kapal Pelra sangat cocok dikembangkan untuk mendukung pariwisata bahari. Misalnya kapal pinisi yang terbuat dari kayu bisa dimodifikasi menjadi kapal pesiar untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di wilayah Indonesia.

Sejauh ini usaha demikian sudah ada, namun justru orang-orang Eropa yang kembangkan konsep itu di Indonesia. Pramarin berfikir mengapa hal itu tidak dikembangkan oleh kita sendiri dan dapat menghasilkan pemasukan lebih, terutama bagi pengusaha kapal Pelra.

"Waktu tahun 1997 saya sudah kembangkan konsep itu dengan kapal pinisi yang dimodifikasi dengan rute Labuan Bajo – Lombok, hasilnya cukup bagus," ungkap Djoko.

Ia percaya market ini di Eropa sangat baik. Dan di beberapa destinasi wisata di tanah air seperti Raja Ampat dan Pulau Komodo sudah ada konsep seperti itu. Satu kali trip selama 3 hari, biaya per orangnya bisa mencapai Rp25-50 juta dengan berbagai paket dan fasilitas tambahan.

"Biasanya itu orang barat yang punya, paling orang kita hanya jadi ABK-nya saja. Dengan potensi keindahan alam kita dan banyak kapal yang kita miliki kenapa tidak kita membuat sendiri, asalkan didukung semua pihak," bebernya.

Kapal-kapal Pelra yang ada saat ini juga sarat dengan adat dan budaya suatu daerah. Sehingga kearifan lokal seperti itu bisa menjadi nilai jual yang tinggi.

Djoko mencontohkan Yunani sebagai negara Eropa yang sukses mengembangkan usaha Pelra yang mayoritas juga berprofesi sebagai nelayan untuk mendukung pariwisata baharinya. Usaha Pelra di Yunani juga masih menonjolkan budaya dan tradisinya dalam bentuk kapal-kapalnya yang mengangkut para turis.

Faktor lain yang mendukung konsep itu berkembang pesat dan maju di Yunani adalah adanya dukungan pemerintahnya dalam usaha tersebut. Sudah sepatutnya pemerintah Indonesia selaku regulator juga mengarahkan demikian.

"Padahal, kepulauan Indonesia masih jauh lebih unggul ketimbang kepulauan di Yunani. Dan seharusnya usaha Pelra untuk wisata bahari kita bisa lebih maju," selorohnya.

Sehingga, Djoko menilai bahwa dengan FGD nanti pihaknya berharap bisa menggugah komitmen pemerintah terutama Kemenko Maritim, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata serta stakeholder lainnya.

"Niat kita hanya untuk menghidupkan kembali usaha Pelra. Beruntungnya Deputi IV Kemenko Maritim juga sudah mendukung konsep tinggal disempurnakan lagi lewat FGD. Dan di forum itu kita duduk bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada," pungkas Djoko.





Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply