Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Bersama Dua Kementerian, CTI-CFF Serukan Pentingnya Konservasi Wilayah Pesisir


PEMUDA MARITIM – Sekretariat Regional CTI-CFF bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kembali menyerukan pentingnya upaya konservasi lingkungan kelautan dan wilayah pesisir untuk mendukung agenda kerja pemerintah Indonesia di bidang perikanan berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, dan ketahanan pangan melalui platform kerjasama Prakarsa Segitiga Karang untuk Terumbu Karang, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security/CTI-CFF).

Sejak diresmikannya kelembagaan Sekretariat Regional CTI-CFF Permanen pada tahun 2015, kegiatan-kegiatan konsultatif dan tematik di bidang konservasi kelautan dan wilayah pesisir yang melibatkan enam (6) negara CTI-CFF (Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Solomon Islands, dan Timor-Leste) terus meningkat dan mendapat pengakuan dari lembaga-lembaga kerjasama regional dan internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bagi Indonesia, kegiatan dan program yang dijalankan bersama dengan organisasi multilateral CTI-CFF memiliki nilai strategis di tingkat nasional maupun regional. Beberapa diantaranya termasuk dikembangkannya upaya bersama Kawasan Konservasi Perairan (MPA) yang tidak hanya untuk perikanan berkelanjutan, tetapi juga pariwisata berbasis kekayaan alam setempat. Bentang laut yang dikelola secara efektif sesuai dengan pembagian zonasi, yang di dalamnya termasuk pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem (EAFM) dan adaptasi perubahan iklim di wilayah pesisir. Semua kegiatan di atas diwadahi dalam bentuk kegiatan CTI-CFF Technical Working Group (TWG).

"Sebagai salah satu anggota CTI-CFF dengan wilayah terluas, kami yakin Indonesia dapat menjadi penggerak kegiatan sekaligus memetik manfaat kerjasama ini – baik dalam hal teknis maupun inisiatif yang memberi dampak langsung pada perikanan berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, dan ketahanan pangan," ujar Widi A. Pratiko Ph.D, Direktur Eksekutif CTI-CFF.

Khusus untuk perikanan berkelanjutan, Indonesia memiliki agenda pembangunan perikanan utama, yaitu sustainability (keberlanjutan), prosperity (kesejahteraan), dan sovereignty (kedaulatan) yang juga sesuai dengan tujuan program aksi CTI-CFF seperti disebutkan di atas. Walaupun tantangan yang dihadapi juga tidaklah mudah, seperti meningkatnya sampah plastik (marine debris), pesatnya pembangunan wilayah pesisir, menurunnya kesehatan laut, penangkapan ikan berlebih dan merusak, serta kebijakan-kebijakan yang tidak pro lingkungan.

Brahmantya Satyamurti Poerwadi, ST., Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengatakan bahwa Indonesia siap mengimplementasikan kesepakatan-kesepakatan bersama organisasi CTI-CFF, baik di tingkat regional, nasional, hingga ke tingkatan daerah.

"Sesuai dengan Peraturan Presiden No 85 tahun 2015 tentang CTI-CFF, Komite Nasional CTI-CFF Indonesia siap mengimplementasikan kesepakatan-kesepakatan bersama organisasi CTI-CFF di tingkat regional, nasional, maupun daerah, khususnya yang bersinggungan dengan kebijakan nasional di bidang perikanan berkelanjutan di wilayah perairan dan pesisir Indonesia," jelas Brahmantya Satyamurti Poerwadi kepada pewarta media.

Di bagian lain, masalah adaptasi perubahan iklim juga menjadi perhatian utama CTI-CFF. Salah satunya melalui berbagai kegiatan diskusi dan perumusan kebijakan di tingkat regional dan internasional yang diterjemahkan ke dalam kesepakatan regional dan nasional masing-masing negara. Hal ini sesuai dengan semangat tujuan rencana aksi regional CTI-CFF yaitu tercapainya acuan adaptasi perubahan iklim bagi kawasan Segitiga Karang.

Harapannya, masyarakat yang tinggal dan hidup di wilayah pesisir dapat mengantisipasi perubahan iklim akibat pemanasan global yang sedang terjadi, termasuk di dalamnya alternatif sumber mata pencaharian dan mitigasi bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Nur Masripatin M.For. Sc, menyatakan bahwa CTI-CFF selama dua tahun belakangan turut memberikan sumbangsih pemikiran bagi solusi intervensi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia.

"KLHK adalah bagian dari Komisi Nasional CTI-CFF Indonesia yang khusus menangani masalah adaptasi perubahan iklim karena pemanasan global dan apa yang dijalankan oleh CTI-CFF selama dua tahun belakangan turut memberikan sumbangsih pemikiran bagi solusi intervensi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia," tuturnya.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply