Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Dirgahayu TNI AL, Terus Kobarkan Semangat Menjaga NKRI


Oleh: Muhammad Sutisna S.Sos (Pegiat Maritim Nusantara)

PEMUDA MARITIM – Tepat tanggal 10 September 2017,  TNI AL genap berusia 72 yang tidak jauh usianya dengan  Republik Indonesia. Sebuah usia yang sangat matang dan bisa berbicara banyak dalam kancah internasional.

Khususnya melihat peran TNI AL yang tidaklah mudah, menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia. Meskipun dalam perjalanannya mengalami berbagai macam hambatan seperti masih banyaknya alutsista yang sudah udzur hingga kesejahteraan para prajurit yang masih belum merata.

Angkatan Laut memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan suatu wilayah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ken Booth, pemikir maritim asal Inggris menjelaskan bahwa Angkatan Laut memiliki tiga peran penting sebagai bagian utama dari kekuatan laut, yakni peran militer, peran konstabulari dan peran diplomasi (Marsetio, 2014:32).

Angkatan Laut juga memiliki fungsi sebagai trigger dalam menjaga stabilitas kawasan maritim, melindungi dan menjaga perbatasan laut dengan negara tetangga. Namun hal tersebut tidaklah mudah, membangun kekuatan Angkatan Laut yang disegani oleh lawan perlu adanya keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kekuatan yang dimilikinya.

Dalam sejarah Indonesia, TNI Angkatan Laut memiliki track record yang sangat baik dalam mengawal stabilitas dan kedaulatan perairan Indonesia. Seperti pada era Presiden Soekarno, TNI AL menjadi kekuatan yang sangat ditakuti di wilayah Asia. Dengan memiliki kekuatan armada tempur yang memadai, TNI AL selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan wilayah NKRI yang ketika awal kemerdekaan mendapatkan serangan yang luar biasa.


Perjalanan Kelam

Berbagai macam upaya untuk mempertahankan ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia-red) sebagai penjaga pertahanan di bidang matra laut (maritim) terus diupayakan. Meskipun situasinya sangat sulit, perjuangan ALRI pun hanya terbatas di wilayah darat. Akibat tidak memiliki armada laut yang memadai. Menjadi hal yang dilematis ketika posisi Indonesia yang baru merdeka, ALRI harus terus menjaga eksistensinya sebagai kelembagaan yang bertugas menjaga wilayah perairan NKRI.

Masalah lainnya yakni ketika anggaran terbatas, menyebabkan ALRI tidak bisa membeli secara besar-besaran di saat upaya konfrontasi yang terus dilakukan dan pergolakan daerah terjadi. Oleh karena itu, ALRI melalukan sebuah kebijakan tentang efisiensi, yakni memprioritakan kepada pembelian alat-alat yang langsung dapat digunakan untuk menunjang tugas-tugas berupa kapal perang, persenjataan untuk Korps Komando dan angkutan darat.

Selain itu, sebuah peristiwa sejarah (Operasi Trikora) yang sangat penting ketika di tahun 1960an dalam usaha merebut wilayah Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pecahnya pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962 menjadi salah satu catatan sejarah terpenting dalam melihat peran militer TNI AL kala itu. Ketika tiga KRI (Macan Tutul, Macan Kumbang dan Harimau) melakukan upaya konfrontasi namun mendapatkan perlawanan dari pihak belanda.

Dalam peristiwa penting ini, ada yang rela berkorban demi menyelamatkan KRI lainnya. Yakni Komodor Yos Sudarso berusaha melakukan upaya pengalihan agar 2 kapal lainnya selamat (Macan Kumbang dan Harimau). Sehingga tak heran, dengan amunisi seadanya, KRI macan Tutul menjadi bulan-bulanan kapal Belanda.

Begitulah kegigihan yang dilakukan oleh para punggawa TNI AL, mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa dan negara. kita harus mengambil semangat yang selalu digelorakan oleh Yos Sudarso yakni "Kobarkan semangat pertempuran".

Perjalanan Angkatan Laut sebagai salah satu penopang kekuatan maritim di Republik Indonesia tidaklah mudah. Meskipun di era Presiden Soekarno mengalami kejayaan karena memiliki alutsista yang memadai dan ditakuti oleh lawan. Namun lambat laun merosot di era kepemimpinan Presiden Soeharto .

Bahkan di awal pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1966-1970 beberapa kapal-kapal yang dimiliki ALRI harus dinonaktifkan sekitar 60% atau sebesar 109 kapal yang dipertahankan dari 234 kapal yang dimiliki. Hal itu disebabkan bila melihat anggaran yang disediakan untuk Angkatan Laut hanya cukup untuk menyiapkan 40% dari kekuatan yang ada.

Akibatnya, ALRI secara bertahap melakukan rasionalisasi kekuatannya yaitu penonaktifan kapal-kapal perang yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Dapat dikatakan era ini merupakan era survival bagi ALRI. Di sisi lain ALRI tetap harus memenuhi kebutuhan operasionalnya menjaga pertahanan maritim Indonesia.

Selain itu, kebijakan Presiden Soeharto lebih memfokuskan pembenahan ekonomi nasional guna menjaga stabilitas nasional daripada mempertahankan kekuatan pertahanan berkapasitas besar. Sehingga  kebijakan ini berdampak pada drastisnya penurunan anggaran militer.

Orde Baru tidak meneruskan orientasi kebijakan pertahanan yang dilakukan oleh Pemerintahan Orde Lama. Karena pada era Orde Lama itu berorientasi kepada politik itu bukan sekadar sebagai panglima tetapi kekuatan militer juga sebagai penggentar di tingkatan regional hingga internasional. Berbeda dengan era orde baru, yang lebih kepada pembenahan internal karena orientasinya kepada penguatan non pertahanan, lebih kepada penguatan intelijen, dibangunnya struktur teritorial, penguatan tempurnya diminimalisir, guna memuluskan kebijakan politik orde baru.

Hal ini juga disebabkan oleh politik Dwi Fungsi ABRI yang sangat menguat, Militer lebih sering disibukkan kepada aktivitas non militer. Di mana militer memiliki fungsi ganda selain sebagai penjaga kedaulatan, juga sebagai aparatur pemerintah karena hampir semua sektor pemerintah dikuasai oleh militer. Sehingga untuk pemenuhan kebutuhan alutsista tidak terlalu diprioritaskan.

Kondisi tersebut sangatlah sulit bila terus diterapkan di era modern seperti ini, karena tidak mencerminkan sebuah lembaga pertahanan yang professional. Ketika fungsi militer yang harus mengedepankan aktivitas militernya ketimbang non militer. Fokus terhadap fungsinya sebagai penjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena kita akan menghadapi situasi yang sulit dan tidak bisa diprediksi ke depannya.


Tantangan TNI AL dalam Menghadapi Gejolak Zaman

Sekelumit gambaran yang sudah dijelaskan sebelumnya, mengenai kondisi TNI AL  dari masa ke masa. Telah berhasil melewati berbagai macam tantangan dan tetap kokoh dalam suatu kondisi apapun. Seperti terjadinya  krisis moneter yang melanda Indonesia pada awal reformasi. Hal itu berdampak pada pemenuhan kebutuhan alutsista, karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat saja tidak mampu akibat tingginya inflasi ekonomi apalagi dalam pemenuhan kebutuhan penambahan armada TNI AL.

Bila berkaca dalam permasalahan pertahanan global, besarnya belanja pertahanan memang selalu dikaitkan dengan ekonomi. Emile Benoit menegaskan bahwa pengeluaran anggaran pertahanan yang besar memicu pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun sebaliknya kecilnya anggaran akan membuat pertumbuhan ekonomi negara tersebut menjadi lambat. De Grase juga menyatakan bahwa belanja pertahanan akan menciptakan lapangan kerja, meningkat daya beli, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sehingga masalah masalah keterbatasan anggaran seharusnya bukan menjadi masalah pokok dalam mewujudkan TNI AL sebagai angkatan laut berkelas dunia (World Class Navy). Misalnya dengan adanya komitmen dari para stakeholder terkait, ketika kebutuhan akan alutsista tinggi. Namun anggaran yang dmiliki terbatas.

Solusinya adalah membangun Industri pertahanan dalam pemenuhan kebutuhan alutsista yang masih bisa diproduksi di dalam negeri. Menggunakan produksi dalam negeri merupakan modal awal agar kemandirian alutsista bangsa ini terwujud.

Sehingga apabila kita sudah bisa mandiri dalam hal pemenuhan kebutuhan alutsista, TNI AL akan lebih fokus terhadap tugasnya, yakni dalam menjaga stabilitas keamanan maritim. Karena melihat situasi saat ini, sudah memasuki dalam tahapan peperangan asitmeris. Suatu kondisi yang tak terduga dan sewaktu-waktu akan memberikan ancaman yang dapat menggangu stabilitas keamanan suatu negara.

Khususnya dalam melihat situasi geopolitik saat ini, ketika perekonomian dunia pada abad 21 ini bergeser dari Poros Amerika-Eropa ke Asia Pasifik, sehingga otomatis perairan kawasan Asia Pasifik menjadi semakin sibuk. Posisi inilah yang menguntungkan Asia Tenggara khususnya Indonesia dapat meningkatkan perekonomiannya.

Namun di sisi lain akan ada masalah baru mengenai masalah keamanan maritim di perairan Asia Tenggara yang sangat memiliki hubungan erat dengan negara negara di luar ASEAN secara regional maupun global.

Seperti dalam kasus terhangat saat ini mengenai munculnya kejahatan terorisme dan perompakan di Filipina Selatan yang hampir dipastikan dapat menggangu stabilitas perekonomian maritim Indonesia. Karena wilayah ini juga bagian dari arus perdagangan internasional.

Oleh karena itu perlu bagi negara-negara di ASEAN sering melakukan kerjasama patroli di kawasan. Indonesia bisa menjadi garda terdepan dalam memimpin operasi patroli tempur tersebut. Dan ini merupakan momentum bagi TNI AL dalam menunjukkan kapasitasnya sebagai world class navy.

Geoffrey Till seorang pemikir maritim dari Inggris juga menjelaskan tentang peran Angkatan Laut sebagi penunjang utama di suatu negara maritim. Mustahil rasanya bila suatu negara dikategorikan sebagai negara maritim, namun tidak memiliki kekuatan angkatan laut yang kuat. Negara tersebut hampir dipastikan bukanlah bagian dari negara maritim.

Di usianya yang menginjak 72 tahun, TNI AL terus meningkatkan kualitas dan professionalisme dari para prajuritnya. Sehingga cita-cita mengembalikan Indonesia yang pernah jaya sebagai negara maritim bukan perkara sulit apalagi jika semua elemen bangsa dapat  saling bahu membahu.

Khususnya peran pemerintah, ketika ingin menjadi negara maritim harus memiliki kebijakan yang terkait pembangunan maritim. Karena membangun negara maritim bukan hanya sekadar jargon saja. Perlu adanya doktrin maritim yang jelas guna sebagai landasan hukum bagi stakeholder yang terkait tentang maritim (Bea Cukai, KKP, Kementerian Perhubungan, Bakamla, dll). Agar selurhunya dapat saling sinergis dalam menjaga stabilitas kawasan perairan.

Karena TNI AL pun tidak dapat bekerja sendirian dalam menjaga laut Indonesia yang sangat luas. Dirgahayu TNI AL, Jalesveva Jayamahe!!



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply