Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » INSA dan IPERINDO Dorong Peningkatan SDM di Hari Maritim Nasional


PEMUDA MARITIM – Dalam sebuah Simposium Kemaritiman yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Teknologi Maritim Se-Indonesia (PERHIMATEKMI) kampus Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Sabtu (23/9/17) lalu, peningkatan SDM untuk memenuhi azas cabotage menjadi sorotan dari para narasumber yang hadir.

Narasumber sesi 2 yang terdiri dari perwakilan INSA (Indonesia National Shipowners' Association) dan IPERINDO (Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia) mengulas lebih jauh soal penerapan azas cabotage yang mengacu pada kebutuhan SDM baik galangan kapal maupun pelaut.

IPERINDO yang diwakili oleh wakil ketua umumnya, Nyoman Sudiana menyatakan sejak diijinkannya perusahaan pelayaran nasional untuk impor kapal bekas mulai sekitar tahun 2005, maka dalam jangka waktu 10 tahun (tahun 2015) penambahan armada kapal nasional meningkat dua kali lipat.

"Dari sekitar 6.500-an kapal menjadi sekitar 13.000-an kapal. Tapi hanya sebagian kecil kapal yang dibangun di galangan kapal dalam negeri," ujar Nyoman.

Padahal hal itu turut bertentangan dengan azas cabotage yang mewajibkan kapal berlayar di Indonesia harus menggunakan bendera Indonesia. Nyoman menegaskan baru masa pemerintahan Jokowi-JK pada tahun 2014 dengan visi Poros Maritim Dunia, baru diluncurkan pengadaan kapal melalui Kementerian Perhubungan, KKP dan instansi lannya.

"Ini merupakan peluang bagi industri galangan kapal dalam negeri untuk meningkatkan investasi dan kemampuan guna mengerjakan pembangunan kapal-kapal tersebut," terangnya.

Menurutnya, selain peningkatan investasi di bidang fasilitas, maka dilakukan juga peningkatan investasi di bidang SDM. Baik melalui peningkatan kemampuan dari SDM yang sudah ada, penambahan sub-kontraktor untuk melakukan paket-paket pekerjaan, maupun penambahan SDM.

"Kesempatan ini juga berdampak kepada industri peralatan dan komponen kapal, yang juga mendapat order yang meningkat, baik secara nominal maupun secara prosentase," tambahnya.

Maka dari itu ia berharap, PPMS dan seluruh mahasiswa yang tergabung dalam PERHIMATEKMI dapat menjadi wadah yang baik untuk menyiapkan SDM.

Sementara itu, INSA yang diwakili oleh Ketua DPC INSA Surabaya, Stenvens H Lesewengen menyatakan bahwa empat elemen dasar pelaut yakni morality & integrity, mentality, skill dan independen harus dipenuhi untuk menciptakan kemajuan kita di bidang maritim.

"Sejak diterapkannya azas cabotage yang berarti angkutan laut dalam negeri harus menggunakan kapal berbendera merah putih, dan diawaki oleh awak berkebangsaan Indonesia, secara serta merta mendorong kebutuhan pelaut nasional dalam jumlah yang cukup besar," katan Stenvens.

Sejauh ini ia melihat kualitas pelaut Indonesia masih jauh berada di bawah negara-negara lain seperti Filipina, Bangladesh dan India. Kemampuan Bahasa asing yang kuran juga menjadi faktor penghambat dari kemajuan tersebut.

"Maka dari itu saya ingatkan kepada teman-teman PERHIMATEKMI selain menguasai soft skill di bidangnya juga menguasai kemampuan bahasa agar kita dapat bersaing di level internasional," ujarnya menambahkan.

Masih kata dia, kebutuhan pelaut di Indonesia masih kurang. INSA membutuhkan 100-400 ribu SDM pelaut setiap tahunnya.

Selain itu, kualitas pelaut yang memenuhi aturan internasional juga sangat diperlukan bagi pelaut Indonesia.

"Perekrutan pelaut harus selektif, ini sesuai aturan STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers) yang nantinya akan ditempatkan di kapal domestik maupun yang berlayar ke luar negeri," pungkasnya.

Selain itu, Dekan FTK ITS Prof. Daniel M Rosyid yang juga hadir sebagai pembicara dalam simposium itu menyatakan pembangunan SDM di Indonesia masih kontradiktif dengan kondisi kemaritiman saat ini. Ia menyarankan agar mahasiswa perkapalan lebih banyak melakukan praktikum sehingga siap bekerja di galangan-galangan kapal nasional maupun luar negeri.

"Jadi sekali-kali kita mengekspor tenaga ahli. Bukan hanya TKW terus yang dikirim ke negara lain. Makannya itu sekarang banyak latihan dan kuasai kemampuan bahasa asing bisa Inggris, Mandarin atau Arab," tandas Daniel.

Simposium yang digelar dalam rangka memperingati Hari Maritim Nasional dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PERHIMATEKMI dihadiri oleh perwakilan 9 universitas yang memiliki Fakultas Perkapalan di Indonesia.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply