Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Jadi Pusat Maritim Dunia, Bambang Bojonegoro: Indonesia Butuh Kapal Riset Modern


PEMUDA MARITIM – Konsorsium Riset Samudera hari ini resmi dideklarasikan. Konsorsium ini merupakan forum yang diharapkan dapat memformulasikan tema riset multidimensional. Riset ini nantinya juga didukung oleh infrastruktur riset melalui kemitraan antar lembaga.

Deklarasi konsorsium ini turut dihadiri oleh Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. Selain itu, turut pula hadir pelaksana tugas (Plt) Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto.

Bersamaan dengan deklarasi ini, Bambang Brodjonegoro menekankan tentang posisi Indonesia sebagai negara maritim. Hal ini telah terlupakan dalam beberapa tahun terakhir sebelum kembali menjadi fokus perhatian dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Bambang, sejarah telah mencatat bahwa Indonesia terlahir sebagai negara maritim. Hal ini dibuktikan dengan peran sektor kelautan yang sangat penting bagi perkembangan kerajaan-kerajaan di Indonesia.

Pentingnya peran sektor kelautan saat ini kembali menjadi fokus utama dari pemerintah. Sumber daya manusia yang unggul hingga perkembangan teknologi pun harus dimiliki oleh Indonesia untuk kembali memanfaatkan kejayaan laut seperti yang telah diperoleh pada masa lalu.

Menurut Bambang, butuh sinergi antara berbagai lembaga dan kementerian untuk mencapai kejayaan maritim Indonesia. Sinergi perlu dilakukan pada beberapa lembaga seperti LIPI, Kementerian Kelautan dan Perikanan, hingga lembaga terkait lainnya.

Tak hanya itu, Indonesia juga membutuhkan sarana dan prasarana yang modern. Salah satunya adalah kapal riset untuk mendukung penelitian bagi bidang kemaritiman.

"Pemerintah sadar perlu sumber daya yang memadai. Kapal riset juga dibutuhkan. Jumlah kapal riset saat ini belum mencukupi," kata Bambang Brodjonegoro di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Kapal riset modern juga dibutuhkan untuk mencapai cita-cita Indonesia menjadi pusat maritim dunia. Pihak swasta juga diharapkan dapat berkontribusi dalam penyediaan kapal riset di Indonesia.

Selain teknologi, Bambang menambahkan, Indonesia juga harus memiliki peneliti ahli untuk menjadi pusat maritim dunia. Hanya saja, saat ini minat dari pemuda Indonesia masih cukup minim untuk menjadi peneliti. Minimnya dana juga diakui Bambang menjadi salah satu kendala dalam pengembangan penelitian pada sektor maritim.

Riset yang dilakukan nantinya diharapkan dapat bermanfaat bagi dunia industri di Indonesia. Hanya saja, Bambang tak ingin sektor maritim di Indonesia bernasib sama seperti sektor kehutanan.

Bambang menilai, saat ini sektor kehutanan sudah dieksploitasi tanpa kajian yang mendalam. Untuk itu, dibutuhkan kajian agar pemanfaatan laut di Indonesia tidak merusak sumber daya alam yang dimiliki.

Melalui riset, investor juga diharapkan dapat berinvestasi pada potensi kelautan yang dimiliki oleh Indonesia. Saat ini, memang telah terdapat beberapa investor yang berminat untuk berinvestasi pada pemanfaatan sumber daya laut Indonesia.

"Kemarin kita kedatangan investor potensial yang ingin manfaatkan listrik dari arus laut," ujarnya.

Sementara itu, Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Zainal Arifin mengatakan, proses oseanografi fisik di kawasan laut Indonesia memiliki keunikan sebagai penentu bagi sirkulasi laut dan iklim global karena terletak pada perantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati laut.

Seperti diketahui, konsorsium riset samudera ini dibentuk oleh beberapa Kementerian atau lembaga dan universitas. Beberapa Kementerian atau lembaga yang terlibat adalah Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Riset dan Teknologi Tinggi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Penkajian dan Penerapan Teknologi, dan Badan Meteorologi dan Geofisika. Sementara itu, universitas yang terlibat adalah Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Sriwijaya.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah mengatakan, terbentuknya konsorsium riset samudera ini dapat membuka keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Adapun keluaran yang diharapkan adalah membangun dan mengelola pusat data kalautan nasional sebagai integrasi data hasil riset samudera di Indonesia.



Sumber: okezone.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply