Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » FGD Terusan Kra, Menakar Peluang Indonesia di Kawasan


PEMUDA MARITIM – Dalam sebuah focus grup discusion (FGD) yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Pertahanan dan Maritim (FKPM) bekerja sama dengan Mabes TNI AL, mengulas lebih jauh soal peluang Indonesia di kawasan di tengah isu dibukanya Terusan Kra di Thailand. FGD yang diselenggarakan di Wisma Elang Laut, Menteng, Jakarta (3/10) itu dibuka oleh Ketua FKPM Laksda TNI (Purn) Robert Mangindaan.

Dalam sambutannya, pengamat maritim kawakan ini menyatakan pembahasan ini sangat penting mengingat akan menentukan strategi pertahanan, serta politik dan ekonomi Indonesia ke depannya.

"Bicara maritim adalah bicara posisi politik kita di kawasan. Isu dibukanya Terusan Kra menjadi ancaman sekaligus peluang bagi politik ekonomi kita di kawasan," ujar Bob biasa akrab disapa.

Pembangunan Terusan Kra itu akan berpengaruh pada posisi geopolitik dan geostrategis kita terlebih dalam berjalannya visi Poros Maritim Dunia.

Salah satu pembicara dalam FGD ini, yaitu mantan Menseskab di awal Pemerintahan Jokowi-JK, Dr. Andi Widjajanto. Pria yang dikenal publik sebagai pengamat intelijen itu menyatakan pembangunan ini merupakan game changer ekonomi maritim.

"Sebagaimana kita tahu bahwa Terusan Kra merupakan mega proyek jalur perdagangan dan energi konektivitas strategis kawasan ekonomi dan investasi ini akan mengubah peta politik ekonomi kita di kawasan," kata Andi.

Salah satu penggagas visi Poros Maritim Dunia ini lebih lanjut mengungkapkan bahwa jalur pelayaran teramai di kawasan ini yaitu Selat Malaka akan mengalami kemunduran bila Terusan Kra dibangun.

Menurut Andi, China sudah menghitung potensi itu dengan membangun pelabuhan-pelabuhan hub dari dan menuju Terusan Kra yang membentang hingga Timur Tengah.

"Ini upaya untuk memperkuat Jalur Sutra Maritim China dengan konsep one belt, one road-nya. Dan tentunya menambah daftar perseteruan antara China dan AS di kawasan Asia Pasifik dan Samudra Hindia," tandasnya.

FGD yang dihadiri oleh para Pamen TNI AL dari berbagai jajaran itu mendapat respons yang sangat baik dari seluruh peserta. Proses tanya jawab berlangsung dinamis antara pembicara dengan audiens.

Salah satu Pamen TNI AL yang mengemukakan gagasannya dalam forum itu adalah Kasubdis Strategi Taktik Operasi Mabes TNI AL, Kolonel Laut (P) Salim. Ia menyerukan agar strategi pertahanan dan politik ekonomi yang berlandaskan maritim harus segera disusun oleh para pemangku kebijakan.

"Untuk menyikapi Terusan Kra ketika dibuka, Indonesia perlu menyiapkan Sabang di wilayah Laut Andaman dan Ranai di wilayah Natuna yang bersinggungan dengan Laut China Selatan. Rencana strategis pertahanan kita harus segera menyusun konsep strategi pertahanan maritim," kata Salim.

Lulusan AAL tahun 1995 yang aktif menulis buku tersebut menerangkan, rencana itu dapat diproyeksikan selama 70 tahun ke depan. Ia mencontohkan China yang memiliki konsep seperti itu, di mana telah disusun dalam beberapa dekade sebelumnya.

China telah mencita-citakan dirinya sebagai negara maritim yang besar dengan membangun pertahanan maritimya dengan konsep Green Water Navy ke Blue Water Navy. Hal itu guna memperkuat ekonomi maritimnya dengan konsep Jalur Sutra Maritim dan Belt Road Initiative.

"Sementara pembangunan pertahanan kita belum banyak mengalami perubahan hingga tahun 2024 karena masih mengacu dengan MEF (Minimum Essensial Force-red). Kelemahan kita karena tidak ada GBHN sehingga setiap 5 tahun masa kepemimipinan cenderung berubah," tegas dia.

Dalam melihat sepak terjang China tersebut, Indonesia harus mengambil sikap untuk menjadikan China sebagai kawan atau lawan. Karena menurut Salim, setelah Terusan Kra dibuka, China akan makin terlihat hegemoninya terutama di kawasan.

"Yang dilakukan Indonesia adalah harus melihat China sebagai lawan atau kawan. Melihat historisnya, kita tidak mungkin berkawan dengan China sehingga kita perlu mencari negara di ASEAN yang memiliki interest sama terhadap kepentingan melawan China misalnya Vietnam," pungkas Salim.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply