Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Pelaut sebagai Pahlawan Bangsa Perlukan Perhatian Ibu Pertiwi


Berjuang meniti samudra
Bersanding ombak dan badai
Panas dan hujan
Bukanlah sandungan
Mencari arah menuju pelabuhan
Jauh keluarga jauh sanak
Tetapi dekat dengan Tuhan
Karena percaya
Semua untuk membangun
Bangsa dan negara Indonesia

PEMUDA MARITIM – Begitulah puisi yang ditulis Ketua Dewan Pembina Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin) Ir. Adharta Ongkosaputra, sebagai ungkapan yang melukiskan suka duka pelaut. Pramarin sendiri baru-baru ini telah menggelar diskusi soal pelaut sebagai bentuk komitmen terhadap permasalahan kepelautan Indonesia.

Seluruh keluarga kami berusaha berdagang dan bekerja di ladang laut. Kakek nenek saya orang pelaut. Orang tua kami juga kerja di laut Saya sendiri kerja di laut. Memang banyak suka duka sebagai pengusaha pelayaran tetapi tulisan saya ini ingin mengajak semua komponen bangsa bahwa pelaut kita adalah pahlawan bangsa tanpa jasa," ujar Adharta di Jakarta, (22/10).

Selama ini kita tahu, bahwa pahlawan tanpa tanda jasa adalah guru, orang yang mendidik generasi. Pelaut pun tak kalah jasanya dalam membangun bangsa. Tanpa pelaut, niscaya roda perekonomian suatu bangsa akan lumpuh total.

"Mereka berjuang tanpa lelah berjuang sekuat tenaga, memang mencari sesuap nasi dan melindungi keluarga tetapi tidak dilirik oleh kita. Apalagi negara kita adalah negara kelautan. Sebagian besar wilayah kita adalah laut tetapi kita tidak me-manage atau memandangnya sebagai negara laut. Siapa saja yang kerja di laut adalah warga kelas dua atau bahkan tidak diperhitungkan," tandasnya dengan geram.

Pelaut mungkin tidak berdasi dan tidak berseragam, Adharta menegaskan bahwa sesungguhnya pelaut kita adalah pahlawan. Para pebisnis memandang usaha pelayaran hanya penunjang bahkan ada istilah kalau perlu tidak diikut sertakan dalam pembicaraan.

"Tetapi kita lupa bahwa karena pandangan kita demikian menyebabkan banyak saudara kita di pelosok Nusantara tidak bisa berbenah apalagi membangun daerah. Istilah desa tertinggal masih kita dengar, istilah percepatan pembangunan daerah khususnya di timur masih berkumandang, tetapi adakah realisasinya?" tandasnya lagi.

Menurut dia, semua harus dimulai dari usaha di laut karena kita adalah negara kelautan maka kita tidak bisa terlepas dari laut. Mau bicara apa saja maka kita harus kita utamakan laut.

CEO PT Aditya Aryaprawira ini lagi-lagi menegaskan, jika kita bicara laut maka kita utamakan Pelaut jangan sampai kita membangun Maritim namun hanya membangun kulitnya saja.

"Kita lupa bahwa inti kemaritiman adalah manusianya yang menjadi penggerak semua roda kemaritiman itu. Mungkin kita menganggap bahwa laut itu kan pemberian Tuhan jadi biar kita ambil saja hasilnya selebihnya terserah yang penting saat ini, apa yang terjadi kelak bukan tanggung jawab kita. Saya berharap pandangan keliru ini agar masih ada kesempatan untuk dirubah," ucapnya.

Pria yang sudah lebih dari 25 tahun bergelut di usaha logistik ini mengajak mulai dari Presiden Republik Indonesia sampai kepada pelaku terkecil yang berada di laut harus memikirkan masa depan bangsa dan negara dimulai dari laut.

"Istilah jalasveva jayamahe semboyan TNI AL tentang ini disebut justru di laut kita jaya. Disebut Jalasveva berarti yang bekerja di laut. Jala itu laut sedang jayamahe berarti kekuatan yang bekerja. Istilah ini tertuang dalam semboyan Kerajaan Majapahit yang sangat memuja dan menjunjung tinggi para pelautnya," bebernya.

Masih kata dia, mulai dari sekolah dasar sekolah menengah dan sekolah menengah atas harusnya diberi tambahan kurikulum tentang kemaritiman dan kelautan sehingga bisa tertanam jiwa cinta laut.
Mendirikan sekolah tentang maritim dan sekolah pelaut yang lebih profesional di sepanjang khatulistiwa adalah suatu keharusan bagi Indonesia yang kini sedang bervisi maritim.

"Sekolah pelaut tidak usah dipungut biaya tidak diberi persyaratan dan dibebaskan dari uang pangkal walau ini hanya sekedar mimpi tapi siapa tahu opini saya ini dibaca dan bisa ditindaklanjuti. Kita berada di tengah tengah laut kita tahu dan pasti sayang sekali kalau kita tidak bisa mengelola laut kita dengan jiwa maritim," seloroh dia .

Pria yang memiliki hobi bernyanyi dan berpuisi ini mengungkapkan bahwa sekolah pelaut sejatinya lebih penting dari sekolah bisnis ataupun jurusan lainnya. Sehingga pembangunan kita sering salah kaprah karena selalu memandang sebelah mata SDM maritim.

"Semua berfikir bahwa bisnis lebih penting sehingga mengorbankan laut, sekolah bisnis bertumbuh, sekolah ekonomi, sekolah komputer, sekolah teknik sipil mesin dan bangunan juga terus bertumbuh. Lalu apa yang ada untuk sekolah pelaut atau maksud saya sekolah maritim? Seharusnya sekolah maritim lebih banyak dari sekolah bisnis dan sekolah bisnis juga diajarkan bisnis laut atau maritim," imbuhnya.

Ia menyatakan dengan miris, saat ini kebangkitan dunia maritim sangat suram, begitu juga dengan industri dan usaha maritim yang terus tenggelam

"Pengusaha pelayaran rame-rame bangkrut, nasib pelaut di ujung tanduk. Siapa yang memikirkan? Pengusaha tidak bisa membayar gaji pelaut dan semua komponen bangsa hanya berpangku tangan dan tutup mata. Pihak perbankan sibuk urus uang dan membiarkan usaha maritim mati suri dan pelan-pelan akan mati beneran," selorohnya lagi.

Ketidak pedulian ini juga dialami insan pengusaha yang lebih menekankan keuntungan sendiri daripada memikirkan keuntungan pihak pelayaran.

"Pelaut kita bukan saja pahlawan bangsa tetapi juga masa depan kita semua, coba bayangkan suatu saat kita tidak punya pelaut. Saya tidak bisa terbayang kalau akhirnya kita akan menjadi bangsa yang mengemis terhadap pelaut pelaut asing," katanya.

Beberapa negara maju sekarang sedang membangun sekolah sekolah maritim secara serempak dan memberikan pendidikan lanjutan bagi para pelaut. Membuka lapangan pekerjaan selebar lebarnya dan memberikan kesempatan kepada para pelaut untuk mengelola usaha-usaha di laut.

"Saya melihat sendiri bagaimana negara-negara tetangga kita sedang berlomba membangun dunia maritim, kekuatan negara negara besar sedang membangun kapal-kapal berteknologi tinggi, kapal-kapal raksasa untuk menguasai dunia. Sedangkan kita belum memulai bahkan sebagian usaha pelayaran sekarang sedang sekarat berdarah-darah dan menunggu tanggal kematiannya," keluhnya.

"Pelaut kita sedang memerlukan perhatian ibu pertiwi, memanggil ibu pertiwi, merintih dan berdoa. Coba panggil seorang nakhoda kapal tanyakan berapa gajinya? Panggil seorang koki kapal tanyakan berapa gaji mereka? Anda akan meneteskan airmata," imbuh Adharta lagi.

Rangkaian permasalahan itu karena pengusaha pelayaran sudah tidak mampu lagi membayarnya. Kapal-kapal tidak jalan sementara ombak dan badai terus merusak kapal yang menuntut para pengusaha untuk memperbaiki kapalnya.

Asuransi pun terus menekan untuk membayar premi namun tidak mau membayar kerugian. Perbankan juga memaksa harus bayar suku bunga yang tinggi dan cicilan yang sangat memberatkan.

"Saya bermimpi suatu saat kapal-kapal bisa beroperasi tanpa harus dicekik oleh bunga bank yang besar. Bagaimana usaha pelayaran bisa berkembang jika disandingkan dengan bisnis perdagangan dengan margin 10 x lipat lebih besar, saya rasa tidak adil. Kalau usaha kita untung besar apalah artinya bayar bunga bank," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan jika usaha merugi bagaimana bisa bayar bunga bank, makan saja susah. Ia pun pernah berdiskusi dengan teman di perbankan untuk membahas soal ini, jawabnya management tidak benar high cost dan tidak hemat alias pemborosan gaji terlalu tinggi.

"Saya sangat tercengang akan jawaban tersebut, karena kita lupa sebentar lagi dunia usaha maritim akan runtuh dan semua usaha terkait akan runtuh. Keutuhan bangsa kita akan runtuh dan kita semua beramai ramai akan runtuh," pungkasnya.

Sebagai tindakan nyata, misalnya memberikan BPJS pelaut gratis, uang yang dibayarkan perusahaan dikembalikan kepada pelaut. Dari sisi pengusahanya, semua perusahaan pelayaran harus dibebaskan dari perpajakan dan semua pajak itu dipergunakan untuk kesejahteraan pelaut.

"Membebaskan pelayaran dari bunga bank. dan itu menjadi kontribusi kesejahteraan pelaut," tutup dia

Sebelum mengakhiri seluruh keluh kesahnya, Adharta lagi-lagi membacakan suatu puisi yang menggambarkan nasib pelaut serta seruan untuk bersama-sama berjuang mengakhiri penderitaan tersebut.

Pelaut tidak bisa berdiri sendiri
Pelaut tidak bisa berjuang sendiri
Pelaut tidak bisa menanggung penderitaan sendiri
Mari kita bersatu padu
Memberikan kontribusi bukan hanya ber-kata kata tetapi membangun kenyataan yang ada.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply