Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Memaknai Poros Maritim Dunia, Jalur Rempah Lebih Tepat daripada Jalur Sutra Maritim


PEMUDA MARITIM – Pekan Poros Maritim Berbasis Rempah diselenggarakan di Lawang Sewu dan Wisma Perdamaian, Semarang 16-19 November 2017. Acara ini diisi dengan rangkaian kegiatan; seminar, pameran produk rempah, pameran pemerintah daerah penghasil rempah dan pameran karya seni "History Repeats Itself" karya Titarubi.

Di awal perhelatan rangkaian kegiatan selama empat hari tersebut ditandai juga dengan Pembukaan Lelang Perdana Komoditas Rempah dan beberapa produk lainnya.

Sejalan dengan implementasi Nawa Cita, pemerintah berkomitmen untuk memperkuat Poros Maritim dan industrialisasi yang berbasis manufaktur agar tercipta kemandirian ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.  Industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018, Bappenas.

Oleh karena itu, revitalisasi rempah merupakan program strategis dan seharusnya segera dilakukan untuk peningkatan perekonomian nasional.

Di sela acara itu, dalam sebuah seminar yang bertajuk Jalur Rempah dan Poros Maritim Dunia, digagas soal bagaimana memperkuat identitas sejarah agar kita menjadi bangsa yang besar. Agus Widiatmoko dari Direktorat Sejarah Kemendikbud menegaskan istilah jalur rempah lebih tepat menggambarkan Poros Maritim Dunia.

"Poros Maritim Dunia yang didengungkan oleh Pak Jokowi itu sebenarnya reborn (lahir kembali-red). Jadi bukan hanya Warkop saja yang reborn, poros maritim juga reborn," seloroh Agus dalam seminar itu di Lawang Sewu, Semarang, (18/11).

Menurutnya, China dengan sejarahnya menghidupkan Jalur Sutra Maritim, namun mengapa kita justru ikut istilah mereka. Padahal Jalur Rempah lebih tepat disandingkan dengan Poros Maritim Dunia ketimbang Jalur Sutra Maritim.

"Jalur rempah itu membuktikan kejayaan Nusantara kita sebelum penjajah masuk. Ini harus menjadi suatu gerakan budaya agar kita bisa bangga dengan istilah nenek moyang kita," ungkapnya.

Sejauh ini, Kemendikbud terus mensosialisasikan gerakan budaya itu menjadi sebuah fondasi yang kuat bagi negara maritim. Memang diakuinya perjuangan itu tak semudah membalikan telapak tangan.

Apalagi di tengah era globalisasi dan rapuhnya generasi milenial saat ini yang mudah terpengaruh oleh budaya-budaya luar, perjuangan mengenalkan budaya maritim Nusantara menjadi sulit.

"Cuma kita tidak boleh menyerah, kita harus pantang mundur membangun generasi kita," tandas Agus.

Sementara itu, Staf Ahli Menko Maritim Tukul Rameyo menjelaskan bahwa budaya merupakan fondasi dari Poros Maritim Dunia. Hal itu sudah ditegaskan melalui Perpres No.16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI).

"Memang budaya itu sebagai fondasi. Yang namanya fondasi letaknya selalu di bawah dan tidak kelihatan. Orang hanya melihat bangunan atasnya saja yang tampak dan menggiurkan. Tentu bagi pekerja fondasi itu sangat sulit dan jarang ada orang yang mau," terang Rameyo biasa akrab disapa.

Maka dari itu, melalui momen ini pembangunan budaya maritim yang mengenalkan jalur rempah harus digalakan. Kemenko Maritim telah mendukung upaya ini dengan melakukan sinergitas dengan kementerian dan Lembaga-lembaga lain guna mewujudkan fondasi yang kuat.

"Pada tahun 2045 hingga 2085, visi Poros Maritim Dunia akan terwujud dengan catatan pada 2015 dikuatkan fondasinya dengan baik melalui berbagai kebijakan. Ingat, tugas kami hanya membuat kebijakan yang seharusnya rumusannya sudah ditanamkan dari bawah," pungkasnya.

Menilik potensi ini, peluang  rempah (misalnya lada, king of spices) yang apabila dikelola dengan cara yang benar akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Misalnya dengan pengelolaan industri komoditi penanaman modal langsung dan transformasi manufaktur.

Saat ini, Pemerintahan Jokowi-JK telah melakukan pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, tol laut, pembangunan jalan hingga ke daerah terpencil, bendungan, irigasi dan rel kereta api. Dengan seperti itu national brand kita juga harus dikembangkan yakni rempah.

Pembangunan ini perlu dimaknai sebagai pembangunan jalur distribusi antar daerah maupun jalur perdagangan ekspor. Selain dukungan infrastruktur, juga dukungan peningkatan investment grade kemudahan berusaha (ease of doing business) yang naik peringkat 106 (2016) menjadi peringkat 91 (2017) dengan potensi arus investasi diperkirakan senilai 100-200 miliar dolar AS. Tak ada kata lain, peluang  rempah yang dulu pernah berjaya apabila dikelola dengan cara yang benar akan mampu meningkatan pertumbuhan ekonomi Nasional.

Acara Pekan Poros Maritim Berbasis Rempah ini didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, Kementerian Pertanian dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dengan menghadirkan tema-tema Kedaulatan Maritim di Bidang; Geo-Ekonomi, Geo-Budaya, Keanekaragaman hayati dan Agro Bahari serta Industri dan Perdagangan Rempah di bidang produksi, pengolahan, kestabilan harga dan situs jalur rempah sebagai simpul budaya maritim-agraris.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply