Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Membangun Keindonesiaan dengan Nonton "Negeri Dongeng"


PEMUDA MARITIM – Indonesia negeri yang kaya raya terletak di antara dua benua dan Samudra yang dilewati garis khatulistiwa telah menyimpan sejuta keindahan. Keindahan alam Indonesia yang membentang di setiap pulau itu sebagian masih menjadi misteri bagi anak bangsa ini.

Filsuf barat menyebut Indonesia merupakan Negeri Atlantis yang Hilang, ada juga yang menyebut Negeri Saba dan Negeri Jelmaan Surga di muka bumi. Banyak literatur dalam bentuk buku yang menuliskan kisah-kisah itu. Namun baru sedikit yang menggambarkan dalam bentuk audio-visual seperti film.

Terlepas dari itu semua, para sineas muda negeri ini yang hobi mendaki gunung menyebut Indonesia sebagai negeri seperti dalam kisah-kisah dongeng dan dalam mimpi.

Mereka akhirnya membuat suatu film dokumenter dengan judul 'Negeri Dongeng' yang telah diputar di beberapa kota di tanah air. Film tersebut menceritakan soal misteri keindahan alam Indonesia yang menepis paradigma negatif Indonesia di mata dunia.

Jangan lihat Indonesia dari kebobrokan birokrasi, sistem hukum dan amburadulnya perekonomian rakyat, tetapi lihatlah Indonesia dari gunung dan lautnya yang seakan saling menyapa, membangunkan jiwa-jiwa yang kerdil dihempas tantangan zaman.

Jiwa-jiwa yang tak kenal siapa ibu pertiwi-nya, maka kelak jiwa tersebut akan menuntun menjadi anak durhaka terhadap tanah airnya. Melalui sebuah film dokumenter, proses pengenalan itu sangat efektif terutama bagi generasi milenial saat ini.

Perjalanan ekspedisi dari beberapa gunung di Indonesia yang diulas dalam film tersebut menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda dalam memandang tanah airnya. Di antaranya adalah Gunung Cartenz di Papua, Gunung Bukit Raya di Kalimantan, Gunung Binaiya di Maluku, Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Semeru di Jawa, dan Gunung Latimojong di Sulawesi.

Film tanpa skenario yang pengerjaannya mulai dari November 2014 itu digarap oleh tim Aksa7art yang terdiri dari Anggi Frisca (Sutradara), Teguh Rahmadi, Rivan Hanggarai, Jogie KM. Nadeak, Yohanes Pattiasina, Wihana Erlangga dan dr. Chandra Sembiring (Produser).

Film ini juga juga diperankan oleh guest ekspeditor, di antaranya artis-artis beken tanah air seperti Nadine Chandrawinata (Cartenz Pyramid Papua), Darius Sinathrya (Gunung Binaiya Ambon), Medina Kamil (Gunung Bukit Raya Kalimantan). Selanjutnya ada Djukardi "Bongkeng" Adriana (Gunung Rinjani Lombok), Alfira "Abex" Naftaly (Gunung Latimojong Sulawesi) dan Matthew Tandioputra (Gunung Semeru Jawa Timur).

Pesan-pesan moral seperti kesetiakawanan, gotong royong, toleransi, dan kebersamaan menjadi ciri khas dalam film ini yang dibalut dalam perjalanan menempuh berbagai rintangan. Tentunya rasa semangat cinta tanah air juga sangat menonjol ditampilkan di film ini.

"Misi kami agar film ini dapat ditonton dari Sabang sampai Merauke, agar anak-anak muda kita mengenal tentang keindahan alamnya," ujar Sang Sutradara, Anggi Frisca usai acara Nonton Bareng 'Negeri Dongeng', di Metropol, Jakarta (16/11).

Soal pengerjaannya, Anggi menyatakan tidak ada skenario apapun dalam proses pembuatan film ini. "Yang ada hanyalah skenario Tuhan dalam perjalanan kita mendaki gunung-gunung itu," selorohnya.

Anggi berharap film ini akan banyak menginspirasi masyarakat kita khususnya para pemuda. Karena para pemuda lah yang akan menjadi tulang punggung bangsa nantinya.

Senada dengan Anggi, produser film, dr. Chandra Sembiring menyatakan bahwa film ini merupakan bentuk karya yang riil yang bisa menggugah banyak orang.

"Lewat value yang dibawakan oleh film ini, diharapkan bisa menjadi gerakan yang massif dalam membangun negeri ini. Kita juga tidak nyangka banyak teman-teman yang bergabung menjadi volunteer dalam memperkenalkan film ini di daerahnya," ungkap Chandra.

Banyak sumbangan-sumbangan sukarela yang telah dilakukan oleh Warriors dan Volunteers film ini untuk mengenalkan kepada seluruh kalangan. Dalam salah satu adegan film, hal itu ditampilkan melalui pemberian 'celengan ayam' kepada Nadine Candrawinata saat hendak terbang ke Papua guna mendaki Puncak Cartenz.

Tak segan-segan, film ini juga menampilkan kritikan pedas kepada salah satu perusahaan pelayaran kebanggaan kita kala membuang sampah bekas makanan penumpang ke laut. Padahal, perusahaan itu telah berkomitmen untuk menjaga kelestarian laut dalam menyongsong pariwisata bahari Indonesia.

Perjalanan lintas gunung, laut dan sungai hingga keluar masuk kampung, bercengkerama dengan penduduk asli dan dalam memperkenalkan adat istiadatnya menjadi poin penting secara sosiologis dan antropologis yang diangkat oleh film ini.

Kita juga disuguhkan bagaimana minimnya infrastruktur masyarakat di pedalaman. Pendidikan juga masih menjadi barang yang sulit bagi anak-anak Indonesia di pedalaman.

"Bagi yang memiliki jiwa cinta tanah air yang tinggi dia akan terenyuh ketika melihat Indonesia seperti apa yang digambarkan dalam film ini. Jadi ada banyak sisi yang kita tampilkan," tandas Chandra.

Berkeluh kesah sedikit, dokter yang pernah menjadi tenaga medis di Mount Everest, Nepal ini menceritakan soal tanggapan beberapa pihak terkait film ini. Selain banyak yang mengapresiasi, film ini tentu tak lepas dari cibiran dari orang-orang tertentu. Namun, alumni Ekspedisi Nusantara Jaya tahun 2015 ini tetap bersyukur, kendati dengan dukungan yang minim, film ini dapat terselesaikan.

"Membangun Indonesia ada banyak cara. Jangan bicara sebelum berbuat yang riil ke negeri ini. Lewat film ini semoga akan terlahir karya-karya yang penuh dengan inspirasi dan value buat kita semua ke depannya," pungkas Chandra.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply