Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Asa di Balik Terik Mentari Taka (Bagian 2)


PEMUDA MARITIM – Di sela acara Kemah Konservasi yang digelar balai taman nasional pada 24 – 26 Oktober, Jusman memaparkan sejumlah rencana pengelolaan wisata di dalam kawasan lindung nasional ini. Ia menayangkan video olah visual tiga dimensi yang menunjukkan rencana pembangunan infrastruktur wisata Tinabo kepada masyarakat pulau di dalam kawasan, termasuk Kepala Kecamatan Taka Bonerate dan Kepala Desa Pasitallu Tengah.

“Saya mau tanya nanti, kenapa bangunan itu dibuat di tepi pantai. Seharusnya bisa dibuat lebih ke dalam sehingga tak merusak pemandangan dari jauh,” bisik Ngakan Putu Oka kepada saya sewaktu mendengarkan pemaparan Jusman di Pasitallu Timur. Di tengah pulau yang berada sebelah selatan dan dicapai sekitar tiga jam perjalanan laut dari Tinabo ini, seluruh kegiatan Kemah Konservasi berlangsung.

Oka, begitu sapaan karibnya, termasuk audiens diskusi yang kritis. Maklum, lelaki Bali yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya tinggal di Makassar ini tercatat sebagai pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Penyuka kegiatan kemah di hutan ini mendapatkan gelar pasca sarjana dan doktoral di sebuah universitas di Kagoshima, Jepang. Tak heran, ia terbiasa kritis dalam memandang suatu ide dan ingin memberikan kontribusi solusi atas masalah yang ada.

Tapi, belum lagi, Oka melontarkan pertanyaan kepada Jusman. Saya lebih dulu tertarik dengan pertanyaan seorang warga tentang pengelolaan kapal penumpang wisata di dalam kawasan. Rupanya, saat ini, belum ada pengaturan khusus dalam hal pengangkutan wisatawan yang ingin melancong ke pulau-pulau di Taka Bonarate, termasuk Tinabo. Warga yang bertanya itu khawatir jika belum ada pengaturan itu bisa menimbulkan kecemburuan di antara mereka.

 “Kami akan segera tindak lanjuti, Pak. Terima kasih atas masukan tadi. Untuk transportasi laut, kami tak bisa memutuskannya sendiri. Sebab, kami harus berkoordinasi dengan pihak Dinas Perhubungan dan Syahbandar. Hal ini berkaitan juga dengan syarat keselamatan kapal,” jawab Jusman.

Ia juga meminta Abdul Rajab yang berada di sisinya untuk segera bertindak. “Saya minta Pak Rajab segera menindaklanjuti persoalan ini. Karena hal ini penting sekali ya. Kita harus segera melakukan koordinasi ya,” pinta Jusman. Rajab segera mengangguk dan mencatat permintaan itu.

Sebagai bawahan, Abdul Rajab siap mengemban tugas. Lelaki asal Makassar ini bertugas sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah II Jinato (yang mencakup pulau-pulau di bagian selatan kawasan). Dengan jabatan itu, Rajab menjadi perpanjangan tangan Jusman dalam mengelola sepenggal kawasan lindung yang punya luas wilayah 27 kali dari besaran Kota Makassar, pusat peradaban Sulawesi Selatan.

Tinabo telah menjadi kata umum di telinga penyelam nusantara. Bahkan, banyak penyuka wisata selam yang datang dari luar negeri turut menyambangi pulau nan sedap dipandang dari udara ini. Tujuan mereka jelas, ingin menikmati kekayaan laut dangkal di perairan tropis nan hangat.

Janji yang tersuratkan dalam sejumlah materi promosi taman nasional tampak nyata. Penyelam bisa melihat aneka jenis ikan cantik di antara kumpulan terumbu karang yang memancarkan warna khas. Belum bagi penyuka hobi fotografi bawah air, sejumlah titik selam di Tinabo dan sekitarnya menawarkan subjek visual nan kaya.

Di antara pulau-pulau lainnya di dalam kawasan, Tinabo telah memiliki kelengkapan buat menyambut penyelam dan wisatawan bahari. Resor telah terbangun. Akomodasi dan logistik tersedia. Sejumlah alat snorkeling juga bisa kita sewa. Akses transportasi pun mudah.

“Ayo, kita renang dulu. Kalau sudah sampai sini, ndak sah kalau belum berenang di laut,” ajak Sanovra Jr, fotografer yang bekerja untuk Tribun Timur sudah bertelanjang dada dan mengenakan celana setinggi lutut. Celananya sudah basah, sebab sejak tiba, Sanovra sudah asyik memotret aktivitas wisatawan dan peserta Kemah Konservasi yang berenang di tepian pulau bersama sekelompok anak hiu sirip hitam.

Saat sore menjelang, lelaki yang suka bermain gitar dan menyanyi itu menerbangkan drone yang ia bawa dari Makassar. Panorama pulau karang di antara gradasi warna biru yang ditingkahi pepohonan dan semak belukar tampak serasi buat dokumentasi dari udara. Sanovra tak hanya memotret aerial, tetapi ia juga mendokumentasikan video. Sembari menikmati rendaman air laut hingga batas lutut, Sanovra mengambil gambar aktivitas kapal dan wisatawan yang snorkeling di dekat dermaga.

Ekho yang menemani saya berjalan di tepian juga sudah siap meluncur ke perairan. Ia berjalan bareng M. Husain Suardy, yang ikut mengambil gambar untuk stasiun televisi nasional. Mereka sudah menenteng action cam, untuk mendokumentasikan aktivitas bahari di sore nan cerah itu.

Bermain dengan biota laut di perairan dangkal menjadi dambaan siapa saja. Tak terkecuali, Ria Natasia. Finalis Putri Selam Indonesia 2017 ini datang dari Bandung, Jawa Barat untuk memenuhi ajakan Asri, staf taman nasional yang bertugas sebagai pengendali ekosistem hutan.

Cewek berkacamata itu masih duduk di bangku kuliah Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Padjajaran. Rupanya, dia sempat magang di taman nasional selama satu bulan. Itu sebabnya, Ria begitu akrab dengan sejumlah staf dan masyarakat yang terlibat dalam Kemah Konservasi. Kedatangannya kali ini bak reuni besar.

Selama magang, kulit putihnya terbakar terik mentari. Tapi, ia tak peduli. Selama bisa menikmati main air laut, Ria merasa puas. Apalagi, ia bisa mengambil foto indah, yang kemudian menjadi pengisi lini masa akun Instagram miliknya. Sudah pasti, rekan sejawatnya bakal melontarkan pujian dan tak jarang menerbitkan rasa iri.

Saya menolak halus ajakan mereka. Air laut nan jernih sedari tadi pun gagal merayu saya. Maklum, saya bukan penyuka penjelajahan bawah laut. Buat menikmati keindahannya cukup melalui tayangan visual saja, begitu pikir saya.



Sumber: nationalgeographic.co.id

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply