Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Asa di Balik Terik Mentari Taka (Bagian 3-Habis)


PEMUDA MARITIM – Tak punya keinginan bermain air bukan berarti gagal menikmati rezeki Yang Maha Kuasa atas karunia alam ini. Saya mengajak Arfan Hamka untuk berkeliling Tinabo. Pemuda 23 tahun ini tak keberatan menerima tawaran. Katanya, agenda berenang bisa dilakukan kemudian. Tak perlu terburu-buru, begitu dia bilang.

Arfan kerap disapa Samson. Tubuhnya gempal dengan tinggi semampai. Barangkali dengan perawakan seperti itu, Arfan dapat julukan Samson dari karibnya. Meski begitu, dia berjalan dengan lincah di tepian berpasir putih. Jalan di atas hamparan pasir seperti tepung ini bukan perkara gampang. Langkah teras berat lantaran saat menapak telapak kaki terbenam di dalamnya.

Berjalan ke arah barat laut, kami mulai meninggalkan resor tepi pantai Tinabo. Kami menikmati siang yang telah bergeser ke sore. Awalnya, melintasi pepohonan cemara laut dan semak belukar hingga menjumpai sumur tadah hujan. Samson mencicipi airnya. “Hah, airnya sudah lama. Ndak enak.”

Setiap kali menjumpai tanaman tepi pantai, Samson selalu hapal dengan nama latinnya. Begitu pula dengan nama ikan karang yang menjadi topik oborolan kami sepanjang penjelajahan kecil itu. Kadangkala, langkah kami terhenti saat menjumpai tumpukan sampah yang terseret oleh arus laut. “Seharusnya kita bisa mengolah sampah plastik ini menjadi jembatan ya,” usulnya.

Ide Samson tadi masuk akal. Sampah plastik yang melayang-layang di lautan hingga mengotori pasir putih menjadi pembicaraan seantero jagat. Bukan hanya peneliti, tetapi juga komunitas peduli lingkungan. Kalau kita kumpulkan, sampah plastik dan lainnya bisa membentuk pulau buatan.

Beberapa waktu lalu, sempat terbetik kabar, pemerintah kita telah siap menganggarkan Rp 13,4 triliun untuk mengatasi masalah sampah di laut. Deputi Bidang Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno menyatakan, dana itu akan digunakan untuk melaksanakan rencana aksi nasional penanganan sampah, terutama sampah plastik yang ada di perairan laut Indonesia.

Arif Havas mengatakan, selain dilakukan langsung oleh Pemerintah, penanganan sampah di laut juga akan melibatkan sektor swasta dan sekaligus masyarakat yang ada di seluruh provinsi. Keterlibatan mereka, diyakini dia akan membawa dampak signifikan dalam pelaksanaan rencana aksi nasional penanganan sampah di laut.

Sampah memang bikin sebal dan repot. Tapi, membuat orang yang tinggal di wilayah kota sadar atas dampak sampah yang mereka buang sembarangan terhadap ekologi itu juga bukan perkara mudah. Buang soal gampang, tapi bersihkan adalah hal yang susah setengah mati. Dan, bikin rugi masyarakat lain.

Lihatlah tepian Tinabo. Saya dan Samson meneliti sampah yang terserak. Di antaranya, ada bekas kotak televise yang terdampar. “Saya pernah buat kotak televisi jadi akuarium. Saya taruh di kampus,” cerita Samson. Saya hanya tersenyum kecut.

Kami juga menjumpai jaring nelayan. Selain itu, ada pula bekas-bekas pancing. “Yang ini bekas pancing cumi-cumi. Kalau lebih besar biasanya buat sotong,” ujar Samson, yang selalu menjelaskan segala sesuatu yang kami jumpai.

Penjelajahan kecil yang menyenangkan terganggu oleh urusan sampah. Saya tak rela perairan Tinabo, yang menjadi andalan Taka Bonerate, kawasan lindung yang berada di sisi selatan semenanjung Sulawesi dan Pulau Selayar. Taman firdaus bahari ini berjuluk “Kepulauan Macan“ karena konon kapal-kapal yang memasuki kawasan ini sering tidak bisa keluar karena terperangkap di hamparan karang, sehingga bagai masuk ke mulut macan.

Taka Bonerate punya bahan promosi mentereng, kawasan dengan terumbu karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Atoll Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Atol Suvadiva di Maladewa. Nah, siapa pun bakal dibuat terpancing untuk menjelajah lantaran data tadi.

Belum cukup itu, masih ada sederet fakta, kawasan perairan seluas lebih dari 500 ribu hektar itu menjadi rumah bagi empat jenis penyu, 233 spesies terumbu karang, 362 jenis ikan karang, 216 jenis moluska. Selain itu, perairannya sering dilewati oleh rombongan lumba-lumba dan paus.

Menjelang mentari meringkuk di peraduan, kami sudah kembali ke dermaga. Penjelajahan keliling pulau usai. Lalu bersambung dengan petualangan mata saat matahari tenggalam di horison barat. Setiap orang telah bersiap dengan kamera. Mereka sibuk mengatur alat perekam itu agar mendapatkan visual khas negeri tropis jelang malam.

Saya tak ingin asa wisata dari taka ini redup lantaran sejumlah persoalan yang tak dapat dibereskan oleh para pihak. Jelang tengah malam, kapal yang saya tumpangi meninggalkan dermaga. Perjalanan panjang di depan mata, tapi saya yakin asa bakal memenuhi kehidupan masa depan. Saya mencoba memejamkan mata di atas geladak kapal.



Sumber: nationalgeographic.co.id

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply