Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Peperangan Litoral: Perang di Laut atau Perang dari Laut? (Bagian 1)


Oleh: Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS

Abstrak

Littoral Warfare adalah aspek peperangan yang semakin kompleks dan menantang dalam peperangan maritim. Negara-negara yang berteknologi maju seperti US, Swedia, dan Singapura terus mengembangkan strategi peperangan litoral (pesisir) dengan membangun kapal-kapal yang lebih efektif dalam bertempur di perairan litoral. Karena wilayah operasi bertempur angkatan laut bergeser dari operasi perairan laut dalam ke perairan litoral, evaluasi taktik peperangan pesisir saat ini mungkin diperlukan. Artikel ini menganalisis relevansi pengertian litoral, perbedaan yang mendasar dalam operasi antara area perairan dalam dan pesisir, teknologi perubahan yang digunakan pada kapal perang dan taktik peperangan pesisir saat ini yang digunakan oleh angkatan laut. Penulis membahas pengertian peperangan litoral itu sebagai "perang di laut". Dengan memahami perubahan mendasar yang terjadi di dalam teater operasi, artikel ini diakhiri dengan rekomendasi agar evaluasi ulang taktik saat ini harus dilakukan untuk memastikan penggunaan aset yang paling efisien untuk tugas peperangan litoral.


Introduksi

Kembalinya mindset kita akan kemaritiman Indonesia mewajibkan TNI Angkatan Laut harus lebih siap untuk berperang di daerah pesisir daripada masa sebelumnya. Pengembangan jenis senjata dan taktik harus mengikuti untuk memproyeksikan kekuatan di perairan litoral. Ancaman yang dihadapi pun sudah berubah baik secara dimensi dan karakter. Kita tidak lagi menghadapi ancaman yang terdefinisi dengan baik di lautan terbuka. Namun sebagai gantinya kita menghadapi ancaman yang tidak jelas di perairan sempit yang dangkal, terutama di daerah kepulauan. Hal ini berarti bahwa senjata, taktik, dan prioritas perlu diubah untuk fokus pada tantangan yang dihadapi dalam peperangan pesisir atau dalam bahasa militer adalah peperangan litoral. Perubahan ini perlu dirancang dengan baik karena daripada mengedepankan berperang di laut terbuka, Angkatan Laut harus mampu untuk bertempur di perairan dangkal dan terbatas melawan musuh yang tidak jelas. Angkatan Laut harus memperbaiki atau memperbaiki kemampuan pendukung pada peperangan anti udara (PAU), anti kapal selam (AKS), anti kapal permukaan (AKPA), anti ranjau (PR) dan sistem persenjataan yang sesuai.

Secara mendasar, "Perang-di-laut", baik di daerah pesisir atau di perairan dalam yang terbuka, pasti terjadi baik secara mandiri maupun bersamaan dalam tiga dimensi peperangan : Anti Air Warfare/ Peperangan Anti Udara,  Anti Submarine Warfare/Peperangan Anti Kapal Selam, dan Anti Surface Warfare / Peperangan Anti Kapal Permukaan. Peperangan di ketiga dimensi ini akan sangat berbeda secara signifikan jika terjadi antara di laut dalam dan lingkungan pesisir.


"Perang-di-Laut" Anti Udara

Pada "perang di laut" di taktik peperangan anti udara di lingkungan laut yang terbuka, menentukan suatu kontak udara pada umumnya tidak terlalu sulit. Arena ini mudah digunakan untuk mendeteksi, mengidentifikasi, mengklasifikasi, memverifikasi, dan menargetkan kontak musuh. Sebuah kapal kelas frigat yang mempunyai radar udara canggih, akan sangat mudah mengidentifikasi dan mengklasifikasi kontak-kontak udara di perairan terbuka dan ruang udara yang luas. Kapal tipe Penjelajah (Cruiser) anti udara yang dilengkapi rudal anti udara jarak menengah dan jarak jauh, sekelas Ticonderoqa milik US Navy, adalah merupakan unsur utama dalam pertahanan anti udara suatu konvoi gugus tugas. Kapal tersebut memang dirancang untuk berlayar dan bertempur di tengah arena pertempuran sebagai payung perlindungan terhadap kapal High Value Unit (HVU) yang didukung oleh radar udara canggih jenis SPY-1. Radar ini mampu menangkap ratusan kontak secara bersamaan. Kemampuan ini sangat ideal jika digunakan di laut terbuka, karena sangat mudah membedakan identifikasi kontak udara, antara pesawat teman maupun musuh. Pesawat kawan yang memancarkan IFF akan memungkinkan diidentifikasi dan menampilkannya di layar radar. Sementara pesawat musuh, sistem IFF yang tidak unik dan ketidaksamaan kodenya, akan mudah diidentifikasi dengan jelas.

Sebaliknya, di laut pesisir, tidak hanya ada pesawat teman dan pesawat musuh yang akan terdeteksi, tapi juga ada pesawat sipil yang tak terhitung jumlahnya dari berbagai jenis, baik rotary maupun fixed-wing. Radar SPY-1 tidak bisa membedakan antara pesawat militer musuh dan sipil, karena kode IFF yang disetel memang tidak ada kesamaan dengan kode IFF sebagai unsur kawan. Itu berarti bahwa faktor manusia sebagai operator radar harus mampu untuk mengevaluasi ratusan kontak dalam sehari dan sekaligus membedakan antara pesawat musuh dan pesawat sipil hanya dengan menganalisa profil penerbangan dan tingkah laku mereka di radar.

Pada saat dalam pertempuran yang sedang berlangsung sengit, operator IFF dan radar mungkin hanya memiliki beberapa detik untuk menentukan identifikasi kontak secara positif. Sebagai contoh sebuah insiden di mana sebuah pesawat udara sipil secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh rudal militer adalah insiden jatuhnya pesawat sipil Airbus Iran Air ditembak oleh rudal permukaan ke udara jenis Standard Missile Block 2 Medium Range dari USS Vincennes di perairan litoral Iran.

Iran Air Flight 655 adalah penerbangan pesawat udara sipil yang dijadwalkan dari Teheran ke Dubai. Pada tanggal 3 Juli 1988, pesawat yang beroperasi pada rute ini ditembak jatuh oleh kapal penjelajah (Cruiser) berpeluru kendali AL Amerika Serikat USS Vincennes. Insiden tersebut terjadi di wilayah udara Iran, di perairan teritorial Iran di Teluk Persia, dan di jalur penerbangan penerbangan yang normal. Pesawat dengan tipe Airbus A300 B2-203, dihancurkan oleh rudal permukaan-ke-udara SM-2MR yang ditembakkan dari USS Vincennes. Semua penumpang sejumlah 290 orang meninggal.[1] Dalam kecelakaan ini, kapal penjelajah USS Vincennes bermanuver untuk memasuki perairan teritorial Iran sebagai respons setelah salah satu helikopter USS Vincennes mendapatkan peringatan ancaman dari kapal cepat Iran yang beroperasi di dalam batas wilayah pesisir Iran.[2]

Menurut pemerintah Amerika Serikat, awak kapal Vincennes salah dalam mengidentifikasi Airbus A300 Iran yaitu sebagai pesawat tempur Tomcat F-14A yang akan menyerang. Situasinya adalah kru Pusat Informasi Tempur (PIT) Vincennes dalam kondisi peran tempur untuk antisipasi serangan F-14 Iran yang akan datang datang dari daratan Iran. Laporan intelijen memberikan informasi bahwa pesawat F14 Iran dilengkapi dengan bom serta rudal Maverick.[3] Dilaporkan bahwa Kru Vincennes telah berusaha untuk menghubungi awak pesawat tersebut pada frekuensi radio militer dan sipil, namun tidak mendapat tanggapan.[4] Pihak Organisasi Penerbangan Sipil Internasional mengatakan bahwa awak pesawat seharusnya memantau frekuensi sipil.

Sebaliknya menurut pemerintah Iran, Vincennes dengan lalai menembak jatuh pesawat sipil tersebut: pesawat tersebut membuat kode IFF dalam Mode III dan IIIA (bukan Mode II yang digunakan oleh pesawat militer Iran), sebuah sinyal yang mengidentifikasinya sebagai pesawat sipil.[5] Kasus ini menunjukkan bahwa tingkat kesulitan yang sangat tinggi dalam mengevaluasi dan mengidentifikasi target di lingkungan pesisir walaupun dengan kecanggihan teknologi sensor yang dimiliki.

Upaya peningkatan kecanggihan dan pengadaan radar udara baru yang lebih baik dari radar SPY-1 bukan menjadi solusi yang tepat. Anggaran pengadaan alut sista militer yang terbatas menjadikannya upaya tersebut menjadi tidak dapat ditingkatkan secara tepat, karena harga radar berteknologi terbaru yang sangat mahal. Solusi terbaik untuk masalah ini adalah harus ada perintah dan kontrol yang lebih jelas dari para pengambil keputusan sebelum berperang.

Sebelum angkatan laut beroperasi dan bertempur di wilayah perairan manapun, seorang pemimpin atau panglima angkatan laut harus secara jelas mengumumkan kepada masyarakat internasional bahwa pertempuran kemungkinan terjadi dan pesawat terbang sipil harus menghindari daerah tersebut. Pengumuman ini yang disebut Notice To Mariner (NOTAM). Di lain sisi, pengumuman ini tidak akan menghalangi angkatan laut melancarkan serangan mendadak atau meluncurkan rudal tanpa peringatan karena bisa dilaksanakan setelah pengumuman disampaikan.

Pada tingkat taktis, kapal-kapal yang terlibat dalam pertempuran harus mengoordinasikan aksi dan serangan mereka terhadap ancaman udara yang ditangkap oleh radar. Koordinasi ini bisa mencakup penyebutan klasifikasi target oleh lebih dari satu unsur atau mendapatkan visual pada target sebelum melaksanakan penyerangan. Tahap pembentukan gambaran peperangan harus jelas, cepat dan seluruh kontak teridentifikasi secara positif.

Bahkan dengan semua tindakan komando dan kontrol terbaik, akan tiba saatnya pada saat satu unsur kapal perang yang memiliki sasaran di radar dan tidak ada memiliki pesawat terbang kawan sebagai Target Reporting Unit (TRU) untuk digunakan sebagai platform visual, dimana solusinya jatuh tepat di tangan komandan kapal. Komandan kapal harus membuat aksi terbaiknya guna melindungi kapalnya. Beroperasi di lingkungan litoral yang rawan adalah misi yang sangat berbahaya; karena pada situasi dimana aturan pelibatan diterapkan, secara sederhana, Komandan harus beraksi cepat dalam menerapkan hak untuk membela diri di perairan litoral.





Daftar Pustaka

Washington Post, 4 Juli 1988. Dapat diakses di http://www.washingtonpost.com/wp-srv/inatl/longterm/flight801/stories/july88crash.htm

The New York Times, 18 November 1988. Dapat diakses di http://www.nytimes.com/1988/11/18/opinion/witness-to-iran-flight-655.html?pagewanted=all&src=pm

History.com, Military Blunders : Iran Airliner Shot Down, 3 Juli 1988. Dapat diakses di https://web.archive.org/web/20070518142130/http://www.history.com/minisite.do?content_type=Minisite_Generic&content_type_id=1271&display_order=3&mini_id=1278

Iran Chamber Society, 3 Juli 1988. Dapat diakses di  http://www.iranchamber.com/history/articles/shootingdown_iranair_flight655.php

Naval Science 302 : Navigation and Naval Operations II. Case Study on USS Vincennes. Dapat diakses di https://web.archive.org/web/20060527221409/http://dolphin.upenn.edu/~nrotc/ns302/20note.html

Nancy J. Cook, Stories of Modern Technology Failures and Cognitive Engineering Successes, CRC Press, 2007, halaman 77

Vincennes : A Case Study. Proceeding Magazines : August 1993 Vol 119/8/1086. Dapat diakses di  https://www.usni.org/magazines/proceedings/1993-08/vincennes-case-study

The Vincennes Incident. Proceeding Magazines : September 1989 Vol 115/9/1039.

Investigation into the Circumstances Surrounding the Downing of Iran Air Flight 655 on July 3, 1988. US Secretary of Defence. Investigation Report.



[1] Nancy J. Cook, Stories of Modern Technology Failures and Cognitive Engineering Successes, CRC Press, 2007, halaman 77.

[2] Vincennes : A Case Study. Proceeding Magazines : August 1993 Vol 119/8/1086. Dapat diakses di  https://www.usni.org/magazines/proceedings/1993-08/vincennes-case-study

[3] The Vincennes Incident. Proceeding Magazines : September 1989 Vol 115/9/1039

[4] Investigation into the Circumstances Surrounding the Downing of Iran Air Flight 655 on July 3, 1988. US Secretary of Defence. Investigation Report.

[5] Iran Chamber Society, 3 Juli 1988. Dapat diakses di  http://www.iranchamber.com/history/articles/shootingdown_iranair_flight655.php



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply