Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Ketahanan Pangan di Laut Jadi Topik Bahasan Maritime Talk di Kampus Akpelni


PEMUDA MARITIM – Dalam acara Maritime Talk yang diselenggarakan oleh Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Jateng, bekerjasama dengan Jateng Institute dan Akademi Pelayaran Niaga Indonesia (Akpelni) di Kampus Akpelni, Semarang, (24/2), mengulas soal ketahanan pangan di laut.

Seminar yang dibuka oleh Direktur Akpelni, Capt. Ahmad Sulistyo itu dihadiri oleh para mahasiswa yang berkuliah di Semarang, Taruna/I Akpelni, serta masyarakat Semarang yang peduli terhadap kemaritiman Indonesia.

Dalam sambutannya, Capt. Ahmad Sulistyo menyatakan bahwa ketahanan pangan di laut merupakan bagian terpenting dalam mewujudkan pembangunan maritim Indonesia. Selain itu, dengan memakan ikan juga dapat meningkatkan sumber protein serta kecerdasan otak manusia.

"Kita bisa contoh orang Yahudi, yang setiap menu makanannnya pasti ada ikan, kecuali kepalanya, mereka tidak makan," ujar Ahmad.

Selanjutnya, soal buku My Fish My Life yang ditulis oleh Kolonel Laut (P) Salim, ia juga mengapresiasi bahwa buku tersebut banyak memberi inspirasi bagi kita semua.

"Buku ini sangat bagus, bisa dijadikan referensi bagi kita semua untuk membangun Poros Maritim Dunia," tandas dia.

Sementara itu, Kolonel Laut (P) Salim yang hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut mengutarakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas jangan ingkar terhadap jatidirinya.

"Kalau kita ingkar sama saja kita dijajah kembali. Kekayaan laut kita akhirnya bukan kita yang menikmati," tegas Salim.

Lulusan AAL tahun 1995 ini juga melihat langsung kekayaan laut Indonesia saat berlayar ke Samudra Hindia, Natuna, dan Bitung, di mana ikan sangat mudah ditangkap dan memiliki kwalitas yang bagus. Namun, ia heran karena bangsa kita tak menikmati hasil ikan tersebut, justru bangsa asing yang menikmatinya.

"Ikan-ikan itu dikonsumsi oleh orang China, Jepang, dan Taiwan. Bahkan di Hongkong, ikan napoleon menjadi menu favorit, tapi di kita tidak pernah mencicipi bagaimana itu rasanya ikan napoleon," selorohnya.

Pembicara lainnya yakni, Ridwan dari INSA Semarang lebih mengulas soal permasalahan pelayaran di Indonesia, yang sejak dulu selalu di bawah bayang-bayang Singapura.

"Negara Poros Maritim Dunia itu adalah Singapura. Negara itu dapat 2 keuntungan dari kantong kanan dan kantong kiri. Dan Malaysia, pada akhir 1990-an juga sudah menyiapkan Tanjung Pelepas sebagai hub port, sekarang dia (Malaysia) juga menikmati hasil itu. Sementara kita saat ini entahlah," berang Ridwan.

Ia juga mengurai sedikit tentang Terusan Kra yang saat ini sudah dibangun di Thailand. Ridwan pun mengkhawatirkan peluang Indonesia memanfaatkan pelayaran dunia semakin kecil.

"Walaupun pemerintah sudah menyiapkan Kuala Tanjung dan Sabang tetapi tetap kita harus benar-benar mempersiapkan diri dalam menghadapi rencana tersebut," bebernya.

Sedangkan pembicara lainnya yaitu Wakil ketua Himpunan Nelayan Seluurh Indonesia (HNSI) Suradi W Saputra yang membahas soal potensi SDA kelautan kita dan perkembangan nasib nelayan akhir-akhir ini.

Ia juga menyorot untuk masyarakat Jawa Tengah khususnya, grafik konsumsi ikan nasional menempati peringkat terakhir. Pihaknya selama ini juga terus mendukung program pemerintah untuk gemar makan ikan dan memerangi IUU Fishing serta cantrang.

"Dengan adanya IUU Fishing kerugian negara itu bisa mencapai Rp30 T per tahunnya. Begitu juga dengan penggunaaan alat tangkap yang tak ramah lingkungan, negara terus merugi dengan praktik tersebut," ulas Suradi.

Dalam seminar yang bertajuk ‘Ketahanan Pangan di Laut, perpective Sea Power’ ini turut mengundang 2 Cagub Jateng yakni Sudirman Said dan Ganjar Pranowo. Namun karena suatu hal keduanya tak dapat menghadiri seminar ini.

Pada sesi tanya jawab, anutusias dari peserta diskusi sangat tinggi, banyak pertanyaan-pertanyaan yang berbobot yang dilontarkan kepada para narasumber. Seluruh penanya kemudian diberikan hadiah berupa buku karya Kolonel Laut (P) Salim yang berjudul My Fish My Life. Acara tersebut dimoderatori oleh perwakilan APMI Pusat Adityo Nugroho.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply