Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » Analisis ISKINDO soal Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan


PEMUDA MARITIM – Pada hari Sabtu, 31 Maret 2018 lalu, pipa baja Pertamina Refinary Unit V berdiameter 20 inci setebal 12 milimeter di kedalaman 25 meter dilaporkan patah dan bergeser hingga 120 meter dari posisi awal. Ini menyebabkan perairan Teluk Balikpapan dan sekitar Selat Makassar tercemar minyak mentah dan disusul kebakaran di tengah laut.

Peristiwa ini menyebabkan 5 orang meninggal dunia dan mencemari areal seluas 7000 ha. Petambak udang di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Akibatnya para petambak udang merugi hingga mencapai Rp500 juta.

Tentunya ini menjadi dampak ekonomi tumpahan minyak mentah di perairan Teluk Balikpapan. Otoritas terkait sedang menyelidiki penyebab tumpahan minyak dan melakukan upaya pemulihan serta menghitung kerugian atas kejadian ini.

Menanggapi hal tersebut, Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO), sejak 4 April 2018 telah membentuk Tim Khusus untuk melakukan investigasi, kajian dan analisis terhadap kejadian di Teluk Balikpapan. Menurut ketua tim ISKINDO Dr. Sakdullah, kejadian tumpahan minyak di Teluk Balikpapan adalah Kejadian Luar Biasa dan Berdampak Ekologis.

“Insiden  tumpahan minyak di Teluk Balikpapan yang terjadi pada tanggal 31 Maret 2018 merupakan Kejadian Luar Biasa dan berdampak ekologis sangat signifikan bagi ekosistem penting di Teluk Balikpapan,” kata Sakdullah.

Ekosistem dan spesies penting yang terpapar dan terkena dampak yaitu ekosistem mangrove, Pesut (Orcaella brevirostris) yang merupakan spesies endemik di Teluk Balikpapan, bekantan, udang, kepiting, ikan, dan berbagai jenis biota yang hidup bergantung pada ekosistem mangrove dan estuary.

Skala peristiwa berkategori TIER 2, yang berarti tingkat dampak kerusakan akibat peristiwa ini mencakup areal regional (Teluk Balikpapan dan Selat Makassar). Menurutnya, nsiden ini juga menunjukan kelambanan penanggulangan operasional.

“Terdapat kelambanan penanganan (delay) oleh pihak terkait (Pertamina),” tandasnya.

Hal ini terlihat dari sikap Pertamina setelah 4 hari kejadian baru mengakui  bahwa itu minyak mentah dari pipa milik Pertamina yang patah. Atas kejadian ini patut diduga bahwa Incident Management Team (IMT) Pertamina lamban merespon adanya insiden atau situasi emergency.

Mengingat skala incident ini berkategori besar dan masuk dalam TIER 2, maka perlu dilakukan pengecekan lebih dalam apakah IMT yang terbentuk adalah unified command yang melibatkan berbagai unsur termasuk KKKS dalam satu wilayah yang ada di Teluk Balikpapan.

“Kami menyarankan insiden ini harus ditangani secara lintas sektor dan stakeholder,” pungkasnya.



Sumber: Maritim News

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply