Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Maritim Umum

Artikel

Teknologi

Kelautan

Perikanan

Karya Mahasiswa

» » » » Pantai Pasir Putih Parbaba Samosir, Pantai yang Tak Seindah Namanya


PEMUDA MARITIM – Salah satu destinasi wisata yang dijual Kabupaten Samosir kepada wisatawan adalah Pantai Pasir Putih Parbaba di Desa Huta Bolon, Kecamatan Pangururan, Sumatera Utara.

Saat mencoba menginjakkan kaki ke lokasi yang berjarak tak sampai setengah jam perjalanan dari Pangururan, ibu kota Kabupaten Samosir, Selasa (26/4/2016) sore, tampak bentangan pantai dengan pasir yang tak lagi putih.

Sejauh mata memandang, bukit menjulang yang berdiri kukuh seakan menindih Danau Toba yang tenang. Desiran air danau yang berlari ke garis pantai, membentur tumpukan pasir menyambut rasa penasaran dengan lokasi wisata yang sering disebut-sebut orang jika berkunjung ke Samosir.

Pengunjung di hari biasa tak ramai. Hanya ada beberapa sepertinya turis lokal sedang menceburkan diri di tepian pantai sambil sesekali berfoto. Beberapa pemuda sedang duduk di atas tikar sambil memetik gitar, bernyanyi mengimbangi suara air danau yang pecah tak jauh dari tempat mereka duduk.

Sejumlah wahana atau transportasi danau seperti jet ski mengapung di sepanjang garis pantai. Tak ada pengunjung yang berselancar di atas danau. "Di sini ramai kalau hari Sabtu dan Minggu, atau paling ramai jika saat hari libur," ujar Ama Melda Sihaloho (62), pemilik kios yang menjual ragam askesoris, makanan dan juga menyewakan wahana permainan air.

Pengunjung yang datang ke Pantai Pasir Putih Parbaba, lumayan banyak datang dari luar Samosir, seperti Kabanjahe, Medan, Siantar dan kota lainnya di Sumatera Utara.

Menurut Ama Melda, lokasi wisata ini menawarkan aneka wahana permainan danau seperti, banana boat yang memuat delapan orang, jet ski, sepeda air, perahu dayung dan ban. Tarifnya sendiri bervariasi dengan durasi tertentu.

Seperti banana boat dan jet ski disewa seharga Rp 200.000 untuk pemakaian setengah jam. Sepeda air disewakan seharga Rp 50.000 untuk durasi pemakaian satu jam dan pemakaian ban seharga Rp 10.000 tanpa dibatasi waktu.

Tak cuma menyewakan wahana permainan, para pemilik usaha di sini juga menyewakan tikar untuk bisa duduk di atas pasir sambil menikmati suasana bersama siapa saja, dengan harga Rp 10.000 tanpa batas waktu. Cuma itu.

Lalu nikmatilah desiran angin dan air danau bertalu-talu dengan lembut. Melepaskan pandangan dan menyerahkan jiwa ke atas air danau.



Sampah

Tapi, semua itu terasa mengganggu manakala mata tertumbuk pada serakan sampah plastik berupa botol bekas air mineral dan plastik pembungkus teronggok di bibir pantai. Air danau yang datang menumbuk pasir di tepian juga tampak kecokelatan, tak bening.

Tak cuma di situ, di samping kios milik Ama Melda tampak serakan sampah yang membuat kesan sangat jorok lokasi pantai. Sampah diduga milik pengunjung atau pemilik kios.

Ama Melda seperti tak bersemangat berbicara soak serakan sampah itu. Tidak sesemangat saat kaos dan kemeja yang dia pajang coba ditawar harganya. Dia mengaku itu sampah miliknya dan pengunjung.

Namun dia tak mau bicara banyak mengapa sampah seperti dibiarkan menumpuk begitu saja. Tak ada wadah, berserakan di atas tanah begitu saja.

Ama Melda kembali antusias berbicara soal bagaimana dulu di pantai yang kini dipenuhi pasir itu, mereka sempat bercocok tanam bawang dan padi, yakni sekitar 1996. Namun itu tak lama karena air danau yang tak menentu naik dan surutnya, membuat tanaman tak bisa terjamin bisa bertahan.

Sementara, lokasi pantai yang mulai berpasir setelah air danau surut perlahan, akhirnya dijadikan sebagai lokasi wisata sejak 2005. Warga Desa Huta Bolon yang dulunya sempat bercocok tanam akhirnya mendirikan kios-kios di sekitar pantai untuk menyewakan aneka wahana permainan air danau, dagang aneka makanan minuman, aksesoris dan wahana permainan air danau.

Hingga kini, lokasi wisata pantai di Danau Toba itu merupakan salah satu dagangan Pemkab Samosir untuk destinasi wisata, kendati pengelolaannya tak seindah namanya Pantai Pasir Putih Parbaba. Sebab lokasi pantai tampak tak tertata dan serakan sampah yang menjadi bagian pemandangan biasa di sini.



Sumber: kompas.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply